Frankenstein45.Com – 02 Juni 2026 | Jakarta – Menteri Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLHD), Mohammad Jumhur Hidayat, menekankan pentingnya memanfaatkan kearifan lokal dalam upaya pengelolaan sampah di seluruh wilayah Indonesia. Dalam sebuah acara yang disiarkan secara daring, beliau menyampaikan bahwa pendekatan tradisional yang telah terbukti efektif di beberapa daerah dapat diintegrasikan dengan teknologi modern untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Beberapa contoh konkret yang diangkat antara lain:
- Program “Sampah Jadi Kompos” di Desa X, Jawa Barat – warga memisahkan sampah organik dan mengolahnya menjadi kompos yang kemudian dipakai untuk meningkatkan kesuburan tanah pertanian.
- Inisiatif “Bambu Bakar” di Kabupaten Y, Sumatra Selatan – limbah bambu yang biasanya dibuang diproses menjadi briket bakar yang ramah lingkungan.
- Bank Sampah di Kota Z, Sulawesi Tengah – sistem tukar sampah dengan barang kebutuhan sehari-hari yang memotivasi masyarakat untuk aktif memilah sampah.
Selain menyoroti keberhasilan tersebut, Menteri juga mengidentifikasi beberapa tantangan utama:
- Keterbatasan infrastruktur pengolahan sampah di daerah terpencil.
- Kurangnya sosialisasi dan edukasi yang konsisten mengenai manfaat kearifan lokal.
- Ketergantungan pada teknologi impor yang belum sepenuhnya sesuai dengan kondisi lokal.
Untuk mengatasi kendala tersebut, BPLHD berencana meluncurkan program pendampingan teknis bagi pemerintah daerah, menyediakan dana hibah bagi inovasi berbasis kearifan lokal, serta memperkuat jaringan pelatihan bagi petugas kebersihan dan relawan. “Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, dan komunitas lokal menjadi kunci keberhasilan,” tegasnya.
Harapan Menteri adalah dalam lima tahun ke depan, setidaknya 60% daerah di Indonesia dapat mengadopsi model pengelolaan sampah yang mengintegrasikan kearifan lokal, sehingga volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) dapat berkurang secara signifikan.




