Frankenstein45.Com – 02 April 2026 | Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa pemerintah sedang aktif mencari sumber alternatif untuk bahan baku produksi plastik. Upaya ini dipicu oleh meningkatnya tekanan pada pasokan bahan baku tradisional serta kebutuhan untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
- Bio‑polimer: Polimer yang diproduksi dari bahan nabati seperti jagung, tebu, atau kelapa sawit, menawarkan peluang pengurangan jejak karbon.
- Daur ulang internal: Teknologi pengolahan limbah plastik menjadi bahan baku berkualitas tinggi, mengurangi volume sampah dan kebutuhan impor.
- Sumber lokal: Penggunaan bahan baku berbasis resin sintetis yang dapat diproduksi di dalam negeri dengan biaya kompetitif.
Selain itu, kementerian perdagangan berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian, Kementerian Lingkungan Hidup, serta lembaga riset untuk menyusun kebijakan insentif yang dapat mendorong investasi di sektor ini. Beberapa langkah konkret yang direncanakan meliputi:
- Penyusunan regulasi pajak yang lebih bersahabat bagi produsen yang mengadopsi bahan baku alternatif.
- Pemberian hibah penelitian bagi universitas dan perusahaan startup yang mengembangkan teknologi bio‑plastik.
- Pembentukan forum industri‑pemerintah untuk memfasilitasi pertukaran informasi dan standar kualitas.
Target jangka pendek pemerintah adalah mengurangi impor bahan baku plastik sebesar 20 persen dalam dua tahun ke depan, sementara target jangka menengah adalah mencapai kemandirian bahan baku sebesar 50 persen pada akhir dekade ini. Jika berhasil, langkah ini diharapkan dapat menstabilkan harga plastik di dalam negeri, menciptakan lapangan kerja baru, dan mendukung agenda pengurangan sampah plastik nasional.
Pengawasan dan evaluasi berkala akan dilakukan untuk memastikan bahwa alternatif yang dipilih tidak hanya ekonomis, tetapi juga ramah lingkungan dan memenuhi standar kualitas yang berlaku.




