Frankenstein45.Com – 22 Mei 2026 | Jakarta, 22 Mei 2026 – Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengumumkan rencana ambisius menjadikan Bandara Internasional Kertajati, Majalengka, sebagai pusat Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) pesawat militer C‑130/Hercules bagi kawasan Asia. Langkah ini diharapkan memperkuat kemampuan pertahanan nasional sekaligus menumbuhkan ekosistem industri dirgantara Indonesia.
Rencana Strategis Kementerian Pertahanan
Dalam pertemuan tingkat tinggi yang diadakan di Pentagon, Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin bertemu dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth. Pada pertemuan itu, AS menyampaikan niatnya untuk mendirikan fasilitas perawatan mesin Hercules di Indonesia. Menyikapi peluang tersebut, Sjafrie menegaskan bahwa Kertajati memiliki lahan luas dan infrastruktur penerbangan yang mendukung, sehingga dipilih sebagai lokasi utama.
Rencana tersebut meliputi pembangunan hangar berskala internasional, fasilitas pengujian mesin, serta area penyimpanan suku cadang. Target jangka pendek adalah menyiapkan infrastruktur dasar dalam dua tahun, sementara jangka panjang menargetkan Kertajati menjadi hub MRO terkemuka di Asia‑Pasifik, melayani tidak hanya pesawat militer Indonesia tetapi juga negara‑negara sahabat.
Dukungan Pemerintah dan Kementerian Terkait
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa lahan di Kertajati masih memadai untuk pengembangan pusat MRO. Ia menambahkan, Kementerian Pertanahan siap berkoordinasi dengan pihak penyelenggara untuk mengamankan wilayah yang diperlukan. “Jika pabrikan asal Amerika Serikat, Lockheed Martin, menyetujui, kami akan memastikan prosedur perizinan berjalan lancar,” ujar Dudy saat ditemui di Gedung DPR.
Selain dukungan internal, Airbus juga menandatangani kerja sama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk mengembangkan fasilitas MRO dan komponen pesawat di Kertajati. Kerjasama ini diharapkan menambah nilai tambah bagi industri kedirgantaraan Indonesia, selaras dengan Indonesian Aerospace Industry Ecosystem Development Masterplan 2024‑2045.
Reaksi Pengamat dan Isu Keamanan
Pengamat penerbangan Alvin Lie menyuarakan keprihatinannya terkait potensi dampak keamanan. Menurutnya, pusat perawatan Hercules militer AS dapat mempermudah akses pesawat militer Amerika ke wilayah udara Indonesia dengan kedok “perawatan”. “Fasilitas ini bersifat high‑security dan kemungkinan besar akan ditempati personel militer AS,” kata Lie dalam wawancara dengan Bisnis.com.
Ia menekankan pentingnya regulasi yang ketat agar kegiatan MRO tidak dijadikan celah bagi operasi militer asing. Pemerintah diharapkan menyusun protokol keamanan siber, kontrol akses, dan pengawasan operasional yang transparan.
Implikasi bagi Industri Dirgantara Nasional
Jika berhasil, Kertajati dapat menjadi magnet investasi bagi perusahaan lokal dan asing. Pembangunan hangar, laboratorium, serta pusat pelatihan teknisi akan menciptakan ribuan lapangan kerja. Selain itu, transfer teknologi dari Lockheed Martin dan Airbus dapat meningkatkan kompetensi sumber daya manusia Indonesia di bidang perawatan pesawat, manufaktur komponen, dan manajemen rantai pasokan.
Secara ekonomi, nilai tambah MRO diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah per tahun, mengingat permintaan perawatan pesawat militer dan sipil yang terus meningkat di kawasan Asia Tenggara. Dengan trafik penerbangan Kertajati yang masih relatif rendah, pengembangan ini juga diharapkan meningkatkan utilisasi bandara, memperkuat konektivitas regional, dan menstimulasi pertumbuhan pariwisata serta logistik.
Namun, keberhasilan proyek sangat bergantung pada sinergi antar‑kementerian, kepastian kebijakan investasi, serta kemampuan mengelola risiko keamanan. Pemerintah menegaskan komitmen untuk menjaga kedaulatan udara Indonesia sambil memanfaatkan peluang kerjasama internasional.
Dengan langkah ini, Indonesia tidak hanya memperkuat pertahanan nasional, tetapi juga menegaskan posisinya sebagai pemain kunci dalam ekosistem industri dirgantara Asia. Pengembangan Kertajati menjadi pusat MRO Hercules menandai babak baru dalam upaya modernisasi militer dan diversifikasi ekonomi berbasis teknologi tinggi.




