Frankenstein45.Com – 14 Mei 2026 | Dalam sebuah forum yang digelar di Kuala Lumpur, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Eddy Soeparno menegaskan kesiapan Indonesia untuk memimpin pengembangan Carbon Capture and Storage (CCS) di kawasan Asia-Pasifik. Ia menyoroti peran strategis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan potensi sumber energi fosil yang besar sekaligus komitmen untuk mengurangi emisi karbon.
Eddy Soeparno menjelaskan bahwa CCS bukan sekadar teknologi penangkap karbon, melainkan rangkaian proses yang meliputi penangkapan, transportasi, penyimpanan, dan pemantauan jangka panjang. Dengan mengintegrasikan CCS ke dalam kebijakan energi nasional, Indonesia dapat memanfaatkan cadangan minyak dan gas yang sudah ada sebagai lokasi penyimpanan karbon, sekaligus membuka peluang investasi asing di sektor teknologi bersih.
Beberapa langkah konkret yang diusulkan antara lain:
- Pembentukan lembaga koordinasi khusus yang mengawasi proyek CCS di tingkat nasional dan regional.
- Pengembangan regulasi yang memberikan insentif fiskal bagi perusahaan yang mengimplementasikan teknologi CCS.
- Kolaborasi dengan negara‑negara tetangga, khususnya Malaysia dan Singapura, untuk berbagi pengetahuan, standar keamanan, dan jaringan transportasi karbon.
- Pelatihan sumber daya manusia melalui program pendidikan dan sertifikasi yang berfokus pada teknik penangkapan dan penyimpanan karbon.
Dalam presentasinya, Soeparno juga menampilkan data perkiraan dampak ekonomi. Menurut proyeksi, penerapan CCS secara luas dapat menurunkan emisi CO₂ nasional hingga 30 juta ton per tahun pada 2035, sekaligus menambah nilai tambah ekonomi sebesar USD 5 miliar melalui penciptaan lapangan kerja di bidang teknik, manufaktur, dan layanan operasional.
| Tahun | Pengurangan Emisi (Juta Ton CO₂) | Nilai Ekonomi Tambahan (USD Miliar) |
|---|---|---|
| 2025 | 10 | 1.2 |
| 2030 | 20 | 3.0 |
| 2035 | 30 | 5.0 |
Para ahli menilai bahwa posisi geografis Indonesia, dengan jaringan laut yang luas serta cadangan formasi geologi yang cocok untuk penyimpanan, memberi keunggulan kompetitif dibandingkan negara lain di kawasan. Namun, tantangan seperti kebutuhan investasi awal yang tinggi, regulasi yang masih berkembang, dan penerimaan publik terhadap proyek penyimpanan bawah tanah tetap perlu diatasi.
Dengan dukungan MPR, pemerintah berharap dapat mempercepat proses legislasi terkait CCS, memperkuat sinergi antara kementerian energi, lingkungan, dan perindustrian, serta menjadikan Indonesia sebagai contoh regional dalam transisi energi bersih. Keberhasilan inisiatif ini diharapkan tidak hanya membantu pencapaian target netralitas karbon Indonesia pada 2060, tetapi juga memperkuat posisi negara sebagai hub teknologi hijau di Asia-Pasifik.




