Frankenstein45.Com – 17 Juni 2026 | Majelis Ulama Indonesia (MUI) baru-baru ini memberikan pernyataan terkait demonstrasi yang digelar oleh mahasiswa di beberapa kampus negeri. Menurut MUI, kritik yang disampaikan kepada pemerintah atau kebijakan publik harus dilandasi kesantunan agar semangat persatuan bangsa tidak terganggu.
Pernyataan itu juga menyertakan referensi dari kisah Nabi Musa a.s. dan Fir’aun, sebagai pelajaran moral tentang bahaya penyalahgunaan kekuasaan dan pentingnya menegakkan keadilan. MUI menekankan bahwa, sebagaimana Musa menantang tirani Fir’aun, warga negara juga berhak menyuarakan pendapat, namun cara penyampaiannya harus tetap menghormati nilai-nilai kebersamaan.
Berikut beberapa poin utama yang disorot oleh MUI:
- Kritik harus disampaikan secara santun, tidak mengandung fitnah atau provokasi.
- Pemuda dan mahasiswa diimbau untuk menyalurkan aspirasi melalui kanal resmi maupun dialog konstruktif.
- Penggunaan bahasa yang menghormati agama, suku, dan budaya Indonesia menjadi prioritas dalam setiap bentuk protes.
- Contoh sejarah Nabi Musa dan Fir’aun dijadikan analogi untuk memperingatkan bahaya kepemimpinan otoriter yang menindas rakyat.
MUI juga mengingatkan bahwa persatuan nasional merupakan aset penting bagi Indonesia. Oleh karena itu, setiap aksi demonstrasi harus diimbangi dengan sikap toleransi dan rasa hormat terhadap perbedaan.
Dengan harapan agar demonstrasi dapat tetap menjadi wadah aspirasi yang produktif, MUI menyerukan semua pihak untuk menjunjung tinggi etika berpendapat serta mengedepankan dialog yang membangun.







