Frankenstein45.Com – 05 Juli 2026 | Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Irfan, menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto tidak akan campur tangan dalam penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) Ke-35 yang akan digelar pada 1-5 Agustus mendatang.
Gus Irfan juga menepis isu yang menyebut adanya “poros Istana” yang turut andil dalam forum pemilihan Ketua Umum maupun Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang akan mengemban amanah selama lima tahun ke depan.
Menurut Gus Irfan, Presiden Prabowo sangat menghormati NU, sehingga beliau tidak akan ikut campur tangan dalam setiap rangkaian pemilihan pimpinan organisasi kemasyarakatan agama terbesar di Tanah Air tersebut.
Dinamika Menjelang Muktamar NU 2026
Gus Irfan mengaku prihatin dengan praktik-praktik di luar norma yang belakangan marak terjadi menjelang pelaksanaan agenda tersebut. Ia mengatakan, saat berkeliling ke sejumlah daerah untuk menyambut kepulangan jemaah haji, dia menerima banyak laporan mengenai adanya kandidat yang menjanjikan sesuatu atau menemui sejumlah kepala daerah untuk meminta dukungan menjelang Muktamar NU.
Gus Irfan berharap Muktamar NU berlangsung dengan suasana sejuk dan tetap menjunjung nilai-nilai dasar organisasi. Ia menekankan bahwa proses regenerasi dan pemilihan kepemimpinan di tubuh NU seharusnya berjalan dengan semangat keulamaan, bukan dengan pendekatan politik praktis.
Harapan Gus Irfan
Gus Irfan mengingatkan agar pelaksanaan muktamar tidak berubah menjadi arena persaingan yang berlebihan untuk memperebutkan jabatan. Ia berharap para kiai pendahulu justru memberikan teladan dengan tidak saling berebut jabatan karena menganggap kepemimpinan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan, baik di dunia maupun di akhirat.
Gus Irfan juga meminta pihak-pihak yang selama ini dinilai membuat kegaduhan di internal NU untuk tidak lagi memaksakan diri masuk ke dalam kepengurusan. Ia berharap Muktamar NU menjadi forum yang sejuk dan kembali pada nilai-nilai yang diajarkan para ulama pendahulu.
Menurut Gus Irfan, NU memiliki tradisi kepemimpinan yang berbeda dengan organisasi politik karena berangkat dari nilai pengabdian dan tanggung jawab moral. Ia mengingatkan agar proses regenerasi dan pemilihan kepemimpinan di tubuh NU seharusnya berjalan dengan semangat keulamaan, bukan dengan pendekatan politik praktis.




