Frankenstein45.Com – 15 April 2026 | Riyadh – Sejumlah negara di dunia menegaskan penolakan mereka terhadap langkah Amerika Serikat yang memutus akses laut di Selat Hormuz sebagai bentuk tekanan balik terhadap Iran. Hingga kini, tidak ada satu pun negara yang secara terbuka memberikan dukungan kepada kebijakan tersebut.
Blokade yang diumumkan oleh Washington menimbulkan kecemasan luas karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi pengiriman minyak dunia, mengalirkan sekitar seperempat produksi minyak global. Penutupan atau pembatasan lalu lintas kapal tanker di wilayah ini dapat memicu kenaikan harga energi serta mengganggu rantai pasokan internasional.
Berbagai negara menyuarakan keberatan mereka, antara lain:
- Arab Saudi – menilai tindakan AS dapat meningkatkan ketegangan regional dan mengancam stabilitas pasar energi.
- Uni Emirat Arab – menekankan pentingnya dialog diplomatik daripada aksi militer di wilayah laut internasional.
- Mesir – menyoroti risiko dampak ekonomi bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak melalui selat tersebut.
- Jerman – mengingatkan bahwa kebijakan unilateral dapat merusak prinsip kebebasan navigasi yang diatur oleh hukum internasional.
- Prancis – menegaskan perlunya solusi damai dan menolak penggunaan kekuatan sebagai alat tekanan.
Selain negara-negara di atas, sekutu-sekutu Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah juga tidak memberikan persetujuan terhadap langkah ini. Mereka lebih memilih pendekatan diplomatik dan negosiasi untuk menurunkan ketegangan dengan Tehran.
Pengamat politik internasional menilai bahwa blokade ini dapat memperburuk hubungan antara Amerika Serikat dan sekutu tradisionalnya, sekaligus meningkatkan isolasi diplomatik AS di panggung global. Mereka menambahkan bahwa tekanan ekonomi melalui jalur laut dapat memicu respons balasan dari Iran, termasuk kemungkinan peningkatan serangan terhadap kapal-kapal komersial.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Amerika Serikat mengenai kemungkinan penyesuaian kebijakan tersebut, sementara dunia menantikan perkembangan selanjutnya dalam dinamika geopolitik di Teluk Persia.




