Frankenstein45.Com – 18 Mei 2026 | Jakarta, 17 Mei 2026 – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Minggu menegaskan bahwa pasukan Israel telah menguasai sekitar 60 persen wilayah Jalur Gaza, sekaligus menyatakan bahwa operasi militer mereka berada pada tahap akhir dalam upaya menumpas semua arsitek serangan 7 Oktober 2023. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangka peringatan Hari Yerusalem serta menjelang panggilan telepon penting dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang dijadwalkan pada hari yang sama.
Kontrol atas Gaza Mencapai 60 Persen
Netanyahu menyampaikan bahwa “hari ini kami menguasai 60 persen Gaza, dan besok kami akan melihat lebih jauh lagi,” kata pemimpin Israel dalam sebuah pidato yang disiarkan secara luas. Klaim ini muncul di tengah laporan kemanusiaan yang menunjukkan lebih dari dua juta warga Palestina terpaksa tinggal di zona yang sangat terbatas di bawah kontrol militer Israel. Menurut data kesehatan Gaza yang dikelola oleh otoritas Hamas, lebih dari 72.700 orang telah tewas sejak serangan Hamas pada Oktober 2023, mayoritas di antaranya warga sipil.
Strategi Menumpas Semua Arsitek Serangan 7 Oktober
Dalam rapat kabinet mingguan, Netanyahu menegaskan bahwa pasukannya “sangat dekat” menyelesaikan misi menelusuri dan mengeksekusi semua pelaku utama serangan 7 Oktober, termasuk para perancang, pelaku, dan pemimpin Hamas yang terlibat. Ia menyebut Ezzedine Al‑Haddad, komandan sayap militer Hamas, sebagai “teroris menjijikkan” yang baru saja dibunuh dalam serangan udara presisi di kawasan Rimal, Gaza City. Netanyahu menambahkan, “Saya berjanji bahwa setiap arsitek pembantaian dan penyanderaan akan dihilangkan sampai ke titik terakhir, dan kami sangat dekat dengan penyelesaian misi ini.”
Selain Al‑Haddad, pemerintah Israel telah menargetkan sejumlah tokoh senior Hamas, seperti Yahya Sinwar, yang dianggap sebagai otak utama serangan lintas‑batas, serta Mohammed Deif, komandan lama sayap bersenjata Hamas. Operasi ini juga meluas ke wilayah Lebanon, di mana Israel menargetkan komandan senior Hezbollah yang bersekutu dengan Hamas.
Panggilan Strategis dengan Presiden Trump
Sejumlah laporan mengindikasikan bahwa pada hari yang sama, Trump dan Netanyahu akan mengadakan pembicaraan telepon untuk membahas situasi Iran dan kemungkinan kebangkitan aksi militer terhadap negara tersebut. Pemerintah Israel menilai bahwa blokade yang dipimpin Amerika Serikat telah menimbulkan krisis bahan bakar di Iran, menambah tekanan pada rezim Tehran. Sementara itu, Trump dalam beberapa kesempatan sebelumnya mengingatkan Iran bahwa “jam terus berdetak” dan menuntut tindakan cepat.
Diskusi ini diyakini akan membahas koordinasi intelijen, dukungan logistik, serta rencana bersama dalam menanggulangi ancaman Iran yang terus berkembang. Kedua pemimpin juga diperkirakan akan membahas dukungan Amerika Serikat terhadap operasi militer Israel di Gaza serta upaya diplomatik untuk menstabilkan situasi di Timur Tengah.
Dampak Kemanusiaan dan Respons Internasional
Kontrol 60 persen atas Gaza menimbulkan keprihatinan serius dari komunitas internasional. PBB dan organisasi hak asasi manusia mengingatkan bahwa pendudukan yang meluas dapat memperburuk krisis kemanusiaan, memperparah kelaparan, dan menambah jumlah pengungsi internal. Sementara Israel menegaskan bahwa operasi mereka bertujuan menghentikan ancaman keamanan yang terus mengintai, kritik menyoroti tingginya angka korban sipil serta kerusakan infrastruktur penting seperti rumah sakit dan sekolah.
Di sisi lain, dukungan politik dalam negeri Israel terhadap kebijakan Netanyahu tetap kuat, terutama di kalangan partai-partai kanan yang menilai keberhasilan militer sebagai bukti keberanian dan kemampuan mempertahankan keamanan nasional.
Prospek Ke Depan
Jika kontrol atas Gaza terus meningkat dan semua arsitek serangan 7 Oktober berhasil ditangkap atau dibunuh, Israel dapat mengklaim kemenangan strategis dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari dua tahun. Namun, tantangan pasca‑konflik, termasuk rekonstruksi, rehabilitasi warga sipil, dan penyelesaian politik antara Israel‑Palestina, tetap menjadi tugas yang berat. Pemerintah Israel juga harus menyiapkan kebijakan jangka panjang untuk mengelola wilayah yang kini sebagian besar berada di bawah kontrol militer, sambil menjaga hubungan diplomatik dengan sekutu utama, terutama Amerika Serikat.
Dengan dinamika geopolitik yang terus berubah, pertemuan antara Netanyahu dan Trump diperkirakan akan menjadi penentu arah kebijakan keamanan regional dalam beberapa bulan mendatang. Kedua pemimpin diharapkan akan menyampaikan langkah konkret untuk mengatasi ancaman Iran, menegaskan komitmen mereka terhadap keamanan Israel, serta menanggapi tekanan internasional terkait hak asasi manusia di Gaza.




