Nobar Film Dokumenter "Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita" di Ciputat Dihantui Pesan Misterius dari Kontak Anonim
Nobar Film Dokumenter "Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita" di Ciputat Dihantui Pesan Misterius dari Kontak Anonim

Nobar Film Dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” di Ciputat Dihantui Pesan Misterius dari Kontak Anonim

Frankenstein45.Com – 17 Mei 2026 | Panitia nonton bareng (nobar) film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita yang digelar di Ciputat, Tangerang Selatan pada akhir pekan lalu menarik perhatian publik tidak hanya karena tema kontroversial film tersebut, melainkan juga karena munculnya pesan misterius yang dikirimkan oleh kontak anonim sebelum acara dimulai.

Acara tersebut dijadwalkan pada hari Sabtu, 12 Mei 2024, bertempat di sebuah gedung komunitas di Jalan Ciputat Raya. Film yang disutradarai oleh tim independen menyoroti praktik penyewaan hewan untuk keperluan pesta di wilayah pedesaan Indonesia, sekaligus mengaitkannya dengan warisan kolonialisme yang masih terasa hingga kini. Penayangan film diharapkan menjadi ajang edukasi sekaligus diskusi publik tentang hak-hak hewan dan warisan sejarah.

Sebelum penayangan dimulai, panitia melaporkan bahwa mereka menerima sebuah pesan singkat melalui aplikasi pesan instan yang menanyakan secara detail mengenai agenda, lokasi, serta target audiens acara tersebut. Isi pesan tersebut adalah sebagai berikut:

  • “Apakah kalian yakin akan menayangkan film yang mengkritik praktik kolonialisme dan perlakuan terhadap hewan?”
  • “Siapa saja yang akan hadir, dan apa tujuan utama acara ini?”
  • “Apakah ada pihak yang akan menentang atau mengganggu acara?”

Pesan tersebut tidak mencantumkan identitas pengirim, melainkan hanya menampilkan nomor telepon yang tidak terdaftar pada layanan apapun. Panitia kemudian melakukan pelacakan melalui aplikasi terkait, namun hasilnya tetap anonim.

Menanggapi kejadian tersebut, ketua panitia, Rina Wulandari, menyatakan bahwa mereka tidak menganggap pesan itu sebagai ancaman serius, namun tetap waspada. “Kami sudah menyiapkan prosedur keamanan dasar, termasuk koordinasi dengan Satpol PP setempat. Jika ada hal yang mengganggu, kami siap melaporkan kepada pihak berwajib,” ujarnya.

Pihak kepolisian setempat, melalui Kapolres Tangerang Selatan, menegaskan bahwa mereka telah menerima laporan dari panitia dan akan memantau situasi pada hari acara. “Kami siap memberikan bantuan jika diperlukan, namun sampai kini belum ada indikasi ancaman yang konkret,” kata sang Kapolres.

Reaksi publik di media sosial beragam. Sebagian netizen mengkritik film tersebut sebagai upaya sensasionalisme, sementara yang lain mendukung keberanian panitia untuk menayangkan karya yang mengangkat isu penting. Beberapa komentar juga menyoroti fenomena pesan anonim sebagai bentuk intimidasi digital yang semakin sering terjadi dalam konteks acara publik.

Meski ada kekhawatiran, acara tetap berjalan lancar. Penonton yang hadir berjumlah sekitar 150 orang, termasuk mahasiswa, aktivis hak hewan, dan warga setempat. Diskusi pasca penayangan berlangsung selama satu jam, dengan panelis yang membahas tantangan perlindungan hewan serta dampak warisan kolonialisme pada kebijakan pertanian modern.

Kasus pesan misterius ini menambah dimensi baru pada perdebatan tentang kebebasan berekspresi, keamanan digital, dan tanggung jawab panitia acara publik. Hingga kini, identitas pengirim masih belum terungkap, dan pihak berwenang terus melakukan penyelidikan lebih lanjut.