Frankenstein45.Com – 09 Mei 2026 | Jakarta tengah dihadapkan pada fenomena ekologis yang mengkhawatirkan: ikan sapu‑sapu (Pterygoplichthys spp.) kini mendominasi hingga 80 persen total populasi ikan di perairan ibukota. Situasi ini dipicu oleh kombinasi faktor biologis, perubahan lahan, serta kebijakan pengelolaan sumber daya air yang belum terintegrasi. Dalam sebuah webinar pada 7 Mei 2026, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, mengungkap target pengendalian hingga menurunkan persentase menjadi 20 persen dalam dua tahun. Namun, pakar ekologi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Rina Suryani, menambahkan bahwa penyebab utama ledakan populasi bukan sekadar faktor lokal, melainkan rangkaian proses hulu‑hilir yang melibatkan wilayah Jawa Barat.
Penyebab Utama Ledakan Populasi
Menurut Dr. Rina, tiga faktor utama menjadi pemicu pertumbuhan eksponensial ikan sapu‑sapu di Jakarta:
- Masuknya spesies invasif melalui jaringan sungai: Ikan sapu‑sapu berasal dari wilayah Amerika Selatan dan pertama kali masuk ke Indonesia melalui akuar dan penangkaran. Mereka menyebar ke sungai‑sungai di Jawa Barat, kemudian mengalir ke hilir melalui sistem drainase Jakarta.
- Kondisi lingkungan yang menguntungkan: Sungai‑sungai Jakarta memiliki tingkat polutan organik yang tinggi, menyediakan sumber makanan melimpah bagi ikan pemakan detritus. Selain itu, suhu air yang relatif stabil mempercepat siklus reproduksi, dengan satu betina dapat menghasilkan hingga 800‑1.000 telur per kali bertelur.
- Kurangnya predator alami: Di perairan Jawa Barat, ikan predator seperti lele dan ikan gabus masih ada, namun di Jakarta keberadaan mereka menurun drastis akibat degradasi habitat. Tanpa tekanan predasi, populasi sapu‑sapu tumbuh tanpa kontrol.
Dr. Rina menekankan bahwa pengendalian di tingkat Jakarta saja tidak akan efektif karena aliran air yang terus menerus menghubungkan hulu dan hilir. “Jika kita hanya menjemput ikan di Jakarta, populasi akan kembali mengalir dari hulu setiap musim hujan,” ujarnya.
Strategi Pengendalian dan Hilirisasi
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah merumuskan dua pilar utama: pengendalian kuantitatif dan pemanfaatan nilai tambah (hilirisasi). Pada sisi pengendalian, Hasudungan menyebutkan program penangkapan massal dengan jaring ganda serta pemasangan jebakan khusus di titik‑titik kritis sungai. Target jangka pendek adalah menurunkan persentase menjadi 60‑80 persen dalam satu tahun, kemudian menurunkannya menjadi 20 persen pada akhir periode dua tahun.
Di sisi hilirisasi, DKI Jakarta bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengolah hasil tangkapan menjadi produk non‑pangan. Potensi produk meliputi:
- Pupuk organik yang dihasilkan dari proses pengomposan kulit dan daging ikan, dengan kontrol ketat terhadap logam berat yang terakumulasi.
- Pakan manggot (larva serangga) yang dapat meningkatkan produksi pakan ternak secara berkelanjutan.
- Arang aktif yang diproduksi melalui pirolisis, berguna untuk filtrasi air dan pengolahan limbah industri.
Semua produk tersebut dirancang untuk meminimalkan risiko kontaminasi logam berat, mengingat ikan sapu‑sapu cenderung menyerap logam seperti merkuri dan timbal dari sedimen. Penggunaan produk hilirisasi diharapkan tidak hanya mengurangi beban populasi ikan, tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Kolaborasi Lintas Provinsi dan Restorasi Ekosistem
Dr. Rina menekankan pentingnya kolaborasi antara DKI Jakarta dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Tanpa koordinasi pengelolaan hulu, upaya penangkapan di hilir akan terus terhambat. Sebagai solusi, tim peneliti IPB mengusulkan pembentukan “Pusat Koordinasi Invasif Sungai” yang melibatkan dinas perairan, lembaga riset, serta komunitas nelayan di kedua wilayah.
Setelah target pengendalian tercapai, Dinas KPKP berencana melaksanakan restocking spesies ikan lokal seperti ikan lele, ikan gabus, dan ikan tawes. Restorasi ini diharapkan meningkatkan keanekaragaman hayati, mengembalikan fungsi ekosistem, serta memperbaiki kualitas air yang selama ini terdegradasi oleh aktivitas industri dan urbanisasi.
Secara keseluruhan, penurunan drastis populasi ikan sapu‑sapu membutuhkan pendekatan holistik yang mencakup penanganan hulu‑hilir, pengembangan produk bernilai tambah, serta upaya restorasi habitat alami. Jika semua pihak dapat bersinergi, Jakarta berpotensi menjadi contoh kota besar yang berhasil mengatasi invasi spesies dan memulihkan keseimbangan ekosistem perairannya.




