Frankenstein45.Com – 31 Maret 2026 | Pakar pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Prof Totok Agung Dwi Haryanto, memperingatkan bahwa fenomena El Nino dapat menurunkan produksi pangan secara signifikan jika tidak ditangani secara proaktif.
El Nino merupakan pola suhu laut yang meningkat di wilayah ekuatorial Pasifik, yang biasanya diikuti oleh penurunan curah hujan dan peningkatan suhu udara di Indonesia. Pada periode El Nino, daerah Jawa Tengah dan sekitarnya berpotensi mengalami kekeringan berkepanjangan, memengaruhi fase kritis pertumbuhan padi, jagung, kedelai, dan komoditas lainnya.
Berikut perkiraan dampak yang disampaikan oleh Prof Totok berdasarkan data historis dan model iklim terkini:
| Komoditas | Penurunan Produksi (%) |
|---|---|
| Padi Sawah | 8-12 |
| Jagung | 5-9 |
| Kedelai | 6-10 |
Penurunan tersebut dapat memperburuk ketahanan pangan nasional, terutama pada musim tanam utama yang berlangsung antara Oktober hingga Maret.
Untuk mengurangi risiko, Prof Totok mengusulkan beberapa langkah strategis:
- Peningkatan sistem irigasi berbasis teknologi tetes dan sprinkler untuk mengoptimalkan penggunaan air.
- Pengembangan varietas unggul yang toleran terhadap kekeringan dan suhu tinggi.
- Penerapan pola tanam berkelanjutan, termasuk rotasi tanaman dan diversifikasi lahan.
- Penguatan jaringan peringatan dini iklim melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Dinas Pertanian setempat.
- Peningkatan edukasi petani tentang praktik konservasi tanah dan manajemen air.
Prof Totok menekankan bahwa koordinasi lintas sektoral antara pemerintah, lembaga penelitian, dan petani sangat penting untuk menjaga stabilitas produksi pangan Indonesia di tengah perubahan iklim yang semakin intens.




