Frankenstein45.Com – 30 Maret 2026 | Yogyakarta, 30 Maret 2026 – Menjelang hari raya Idul Fitri, Pasar Kangen yang terletak di kawasan Bantul kembali mencuri perhatian sebagai destinasi wisata lebaran yang tak boleh dilewatkan. Ribuan wisatawan lokal maupun mancanegara berbondong‑bondong mengunjungi pasar tradisional ini untuk merasakan suasana hangat, ragam kuliner khas, serta beragam hiburan budaya yang disajikan secara meriah.
Sejarah Singkat Pasar Kangen
Pasar Kangen berdiri sejak era kolonial Belanda sebagai pusat perdagangan barang kebutuhan sehari‑hari warga sekitar. Selama lebih dari satu abad, pasar ini telah bertransformasi menjadi titik temu antara tradisi dan inovasi, terutama pada momen-momen besar seperti lebaran. Pada tahun 2024, pemerintah Kabupaten Bantul secara resmi mengangkat Pasar Kangen sebagai destinasi wisata budaya, dengan menambahkan fasilitas parkir, area istirahat, dan panggung pertunjukan.
Faktor Penarik Wisata Lebaran
- Kuliner Khas Lebaran – Dari ketupat sayur, opor ayam, hingga jajanan tradisional seperti klepon dan serabi, semua tersedia dalam satu tempat.
- Kerajinan Tangan – Pengrajin lokal memamerkan batik, anyaman bambu, serta souvenir bertema lebaran yang menarik bagi pembeli.
- Hiburan Budaya – Pertunjukan wayang kulit, gamelan, serta lomba masak tradisional menambah warna acara.
- Program Edukasi – Sekolah‑sekolah setempat mengadakan workshop tentang sejarah lebaran dan nilai kebersamaan.
Data Kunjungan dan Dampak Ekonomi
Menurut data yang dirilis oleh Dinas Pariwisata Bantul, selama periode 1–15 April 2026, Pasar Kangen mencatat total kunjungan sebanyak 78.342 orang, meningkat 38 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan pedagang naik rata‑rata 27 % dengan total penjualan mencapai Rp 12,5 miliar.
| Parameter | 2025 | 2026 |
|---|---|---|
| Kunjungan (orang) | 56.800 | 78.342 |
| Penjualan (Rp) | 9,8 miliar | 12,5 miliar |
| Pedagang Aktif | 212 | 235 |
Angka tersebut menegaskan peran strategis Pasar Kangen dalam mendongkrak perekonomian mikro wilayah Bantul, sekaligus memperkuat citra Yogyakarta sebagai destinasi wisata budaya yang inklusif.
Upaya Pemerintah dan Komunitas
Untuk memastikan keamanan dan kenyamanan pengunjung, pihak kepolisian setempat menambah pos keamanan, serta menyiapkan tim medis darurat. Sementara itu, Komunitas Relawan Kebersihan Bantul bekerja secara sukarela membersihkan area pasar setiap dua jam sekali, menjamin kebersihan lingkungan.
Selain itu, Dinas Kebudayaan menggelar lomba foto “Momen Lebaran di Pasar Kangen” dengan hadiah menarik, yang berhasil meningkatkan partisipasi aktif dari kalangan muda. Inisiatif ini tidak hanya mempromosikan pasar secara digital, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki terhadap warisan budaya setempat.
Reaksi Pengunjung
Berbagai komentar dari pengunjung menegaskan keberhasilan acara ini. Seorang wisatawan asal Surabaya mengungkapkan, “Saya datang ke Pasar Kangen pertama kali, dan suasananya begitu hangat. Kuliner lebaran di sini terasa otentik, dan pertunjukan tradisionalnya menambah kebahagiaan.” Sementara seorang turis asal Jepang menambahkan, “Saya terkesan dengan keragaman produk lokal. Pasar Kangen memberikan pengalaman budaya yang otentik, tidak sekadar belanja.”
Para pedagang pun menyambut baik antusiasme tersebut. Salah satu penjual sate, Budi Hartono, mengatakan, “Penjualan hari ini jauh lebih tinggi dari biasanya. Pengunjung tidak hanya membeli makanan, tetapi juga membawa pulang cerita tentang tradisi lebaran Yogyakarta.”
Secara keseluruhan, Pasar Kangen telah berhasil menciptakan sinergi antara ekonomi, budaya, dan sosial, menjadikannya magnet wisata lebaran yang patut diacungi jempol. Keberhasilan ini menjadi contoh bagi pasar‑pasar tradisional lain di Indonesia untuk mengoptimalkan potensi lokal pada momen‑momen penting.
Ke depan, pihak penyelenggara berencana memperluas program edukasi, menambah area pertunjukan, serta meningkatkan fasilitas ramah difabel, sehingga Pasar Kangen dapat terus menjadi destinasi unggulan yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan segala upaya yang telah dilakukan, Pasar Kangen Yogyakarta tidak hanya menjadi tempat berbelanja, melainkan juga ruang interaksi sosial yang memperkuat ikatan kebudayaan pada saat lebaran. Keberagaman kuliner, kerajinan, dan hiburan budaya yang terintegrasi dalam satu lokasi memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi setiap pengunjung.
Kesimpulannya, magnet wisata lebaran di Pasar Kangen telah terbukti efektif meningkatkan kunjungan, pendapatan, serta kesadaran budaya, menjadikan pasar tradisional sebagai pilar utama dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan di Yogyakarta.




