Paus Leo XIV dan Uskup Canterbury Sarah Mullally Pererat Dialog Ekumenis di Tengah Ketegangan Global
Paus Leo XIV dan Uskup Canterbury Sarah Mullally Pererat Dialog Ekumenis di Tengah Ketegangan Global

Paus Leo XIV dan Uskup Canterbury Sarah Mullally Pererat Dialog Ekumenis di Tengah Ketegangan Global

Frankenstein45.Com – 29 April 2026 | Roma, 28 April 2026 – Dalam agenda ziarah kepausan yang menandai langkah penting dialog ekumenis, Paus Leo XIV menerima kunjungan Uskup Agung Canterbury, Sarah Mullally, beserta delegasinya di Istana Apostolik. Pertemuan yang berlangsung pada hari ketiga ziarah tersebut tidak hanya menjadi ajang doa bersama, melainkan juga simbol komitmen berkelanjutan antara Gereja Katolik dan Gereja Anglikan.

Pertemuan Bersejarah di Kapel Urbanus VIII

Paus Leo XIV memimpin ibadat doa siang di Kapel Urbanus VIII, di mana Uskup Canterbury dan delegasinya mengucapkan doa rahmat bersama. Dalam sambutannya, Paus menekankan prinsip damai “tanpa senjata”, menyatakan bahwa kekerasan harus dijawab dengan cara yang tidak bersenjata. Uskup Sarah Mullally menanggapi dengan mengutip Surat Efesus 2:14, menegaskan bahwa Kristus telah merobohkan tembok pemisah antara umat beriman.

Delegasi dan Hadiah Simbolis

  • Uskup Agung Westminster – Richard Moth
  • Direktur Anglican Centre in Rome – Uskup Anthony Ball
  • Penasihat Nasional Hubungan Ekumenis – Pendeta Dr. Matthias Grebe
  • Direktur Pelayanan Episkopal – Canon Margaret Cave

Sebagai tanda persahabatan, Uskup Canterbury mempersembahkan tiga hadiah kepada Paus: sebuah edisi antik tahun 1910 buku “The Dream of Gerontius” karya Kardinal Newman lengkap dengan ilustrasi, sebuah retablo Peru yang menggambarkan kelahiran Yesus, serta madu khas Lambeth Palace.

Dialog Katolik‑Anglikan dalam Konteks Global

Pertemuan ini mengingatkan pada dialog yang bermula sejak kunjungan Paus Paulus VI ke Lambeth Palace pada 1966. Selama enam dekade, komisi-komisi seperti Anglican‑Roman Catholic International Commission (ARCIC) telah menghasilkan kesepahaman teologis yang memperkuat ikatan kedua gereja. Paus Leo XIV menegaskan bahwa perpecahan masih menjadi penghalang efektifitas misi Kristus di dunia, sehingga doa dan kerja sama ekumenis harus terus digalakkan.

Ketegangan dengan Amerika Serikat

Di samping agenda ekumenis, Paus Leo XIV juga berada di sorotan politik internasional. Sikap tegas Paus menolak serangan militer AS dan Israel terhadap Iran, serta menyerukan perlindungan hak imigran, memicu ketegangan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Kritik moral tersebut dianggap menantang kebijakan luar negeri Washington, terutama mengingat Paus merupakan warga kelahiran AS dan memiliki pengaruh signifikan di kalangan Katolik Amerika.

Para pengamat menilai bahwa posisi Paus menandai perubahan gaya kepemimpinan dibanding pendahulunya, dengan menyinggung secara eksplisit pelaku agresi. Hal ini berpotensi memengaruhi hubungan diplomatik serta dinamika elektoral di AS, mengingat pemilih Katolik merupakan kelompok penting.

Pesan Moral dan Harapan untuk Perdamaian

Paus Leo XIV menekankan pentingnya menyingkirkan “batu sandungan” yang menghalangi penyebaran Injil, baik secara teologis maupun sosial. Ia mengajak umat Katolik dan Anglikan untuk terus berdoa demi perdamaian, keadilan, dan kehidupan penuh yang ditawarkan Allah. Uskup Sarah Mullally menutup pertemuan dengan menyatakan kesiapan Gereja Inggris menyambut Paus jika berkunjung ke Inggris, serta menegaskan bahwa doa bersama merupakan jembatan nyata menuju persatuan.

Renungan harian Katolik pada 29 April 2026 menyoroti pentingnya mendengar Roh Kudus dalam keputusan sehari-hari, sejalan dengan ajakan Paus untuk menanggapi dunia yang dipenuhi kekerasan dan perpecahan dengan kedamaian yang “tanpa senjata”.

Dengan latar belakang geopolitik yang semakin kompleks, pertemuan antara Paus Leo XIV dan Uskup Canterbury tidak hanya memperkuat ikatan ekumenis, tetapi juga menegaskan peran moral Gereja dalam menyeimbangkan dinamika politik global. Harapan akan dialog yang lebih konstruktif dan aksi damai tetap menjadi landasan utama kedua belah pihak.