Pemeran Jalan Salib Rela Puasa demi Peran Yesus di Katedral Jakarta
Pemeran Jalan Salib Rela Puasa demi Peran Yesus di Katedral Jakarta

Pemeran Jalan Salib Rela Puasa demi Peran Yesus di Katedral Jakarta

Frankenstein45.Com – 03 April 2026 | Di Gereja Katedral Jakarta, pertunjukan tahunan \”Jalan Salib\” kembali digelar dengan menampilkan dua aktor yang secara bersamaan memerankan sosok Yesus Kristus. Kedua pemeran tersebut mengungkapkan komitmen ekstrem: mereka rela menahan makan selama tiga hari menjelang penampilan, sebagai bentuk penghormatan dan upaya mendekatkan diri pada karakter yang mereka bawa.

  • Durasi puasa: 72 jam menjelang hari pertunjukan
  • Alasan: menumbuhkan empati spiritual dan fisik terhadap penderitaan Yesus
  • Metode: puasa cair (Andi) vs puasa parsial (Budi)
  • Latihan tambahan: meditasi, doa, serta latihan vokal intensif

Para pemeran menjelaskan bahwa puasa tidak semata‑mata bersifat fisik, melainkan juga sebagai sarana menenangkan jiwa dan menyiapkan mental untuk menjiwai peran yang penuh beban. \”Saya ingin merasakan, sekecil apapun, rasa lapar dan kelemahan yang mungkin pernah dirasakan oleh Yesus dalam perjalanan Salib,\” ujar Andi dalam sebuah wawancara singkat.

Reaksi penonton pun beragam. Sebagian menganggap aksi tersebut menunjukkan dedikasi tinggi dan menambah kekhidmatan pertunjukan, sementara yang lain menilai tindakan puasa sebagai simbolik semata yang tidak perlu dilakukan secara ekstrem. Namun, mayoritas menilai bahwa upaya tersebut menambah nilai spiritual bagi mereka yang menyaksikan.

Pertunjukan \”Jalan Salib\” sendiri merupakan tradisi yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade di Katedral Jakarta, menampilkan serangkaian adegan dari perjamuan terakhir hingga penyaliban. Tahun ini, selain dua pemeran Yesus, turut hadir aktor-aktor lain yang memerankan para rasul, perempuan Maria, dan penonton yang berperan sebagai warga Yerusalem.

Dengan komitmen puasa yang dijalankan para pemeran, diharapkan pesan pengorbanan dan penebusan dapat tersampaikan lebih kuat kepada umat. Penyelenggara berharap tradisi ini terus berkembang, menyeimbangkan antara unsur artistik dan spiritual, serta tetap menjadi momen refleksi bagi masyarakat Jakarta.