Frankenstein45.Com – 23 April 2026 | Ketua DPR RI Puan Maharani pada Rabu (22/4/2026) menegaskan perlunya langkah cepat dan hati-hati dari pemerintah dalam mengendalikan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM), LPG, serta minyak goreng. Ia menyatakan bahwa dinamika geopolitik global, termasuk konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, telah menembus perekonomian domestik, menambah beban rumah tangga terutama pada kelompok ekonomi menengah ke bawah.
Kenaikan Harga Energi dan Dampaknya
Data terbaru menunjukkan kenaikan signifikan pada BBM non‑subsidi serta LPG non‑subsidi yang melaju hingga 18 persen. Kelangkaan stok LPG subsidi di berbagai daerah memaksa konsumen beralih ke produk non‑subsidi dengan harga yang jauh lebih tinggi. Puan menyoroti bahwa banyak wilayah mengalami kesulitan memperoleh BBM subsidi, sehingga masyarakat yang berhak justru harus membeli BBM non‑subsidi yang harganya naik tajam.
Lonjakan Harga Minyak Goreng
Menurut Badan Pusat Statistik, pada pekan ketiga April 2026, sebanyak 207 kabupaten/kota (57,5% wilayah Indonesia) mencatat kenaikan harga minyak goreng. Rata‑rata nasional naik dari Rp19.358 menjadi Rp19.592 per liter, namun di Kabupaten Intan Jaya, Papua, harga mencapai Rp60.000 per liter. Kesenjangan ini mencerminkan masalah distribusi dan logistik yang belum teratasi.
Efek Domino Terhadap Daya Beli
Puan menekankan bahwa kenaikan harga energi tidak hanya berdampak pada biaya transportasi, melainkan menular ke harga komoditas lain, memperburuk inflasi. “Jika tidak dikendalikan cepat, kenaikan ini dapat memicu ekspektasi kenaikan barang lain di pasar,” ujarnya. Ia menuntut otoritas fiskal dan moneter untuk mengambil kebijakan yang bersifat preventif, bukan reaktif.
Rekomendasi Kebijakan Pemerintah
- Penyesuaian tarif BBM subsidi secara terukur, menghindari beban berlebih pada konsumen berpenghasilan rendah.
- Penguatan rantai pasok LPG, termasuk peningkatan produksi domestik dan distribusi yang lebih merata.
- Intervensi pasar minyak goreng melalui subsidi sementara atau penetapan batas harga di daerah rawan.
- Peningkatan koordinasi dengan bank sentral untuk mengontrol ekspektasi inflasi melalui kebijakan moneter yang tepat.
- Pengawasan ketat atas spekulasi harga komoditas, terutama pada sektor energi dan pangan.
Peran Pemerintah dalam Menghadapi Geopolitik Global
Meskipun Indonesia tidak terlibat langsung dalam konflik internasional, dampaknya terasa lewat fluktuasi harga komoditas. Puan mengingatkan agar pemerintah tidak lengah, melainkan siap dengan kebijakan mitigasi yang dapat meredam dampak eksternal. Ia menekankan perlunya kebijakan yang bersifat fleksibel, menyesuaikan dengan kondisi pasar yang cepat berubah.
Dalam rangka mengurangi beban rumah tangga, pemerintah juga diminta mempercepat program subsidi energi terbarukan dan memperluas akses listrik di daerah terpencil, sehingga ketergantungan pada BBM dapat ditekan dalam jangka panjang.
Secara keseluruhan, Puan Maharani menyerukan sinergi antara lembaga legislatif, eksekutif, dan bank sentral untuk mengimplementasikan langkah konkret. Tanpa tindakan terkoordinasi, risiko inflasi meluas dapat menggerogoti daya beli, menurunkan pertumbuhan ekonomi, dan memperlebar kesenjangan sosial.
Dengan menanggapi panggilan tersebut, diharapkan kebijakan harga BBM, LPG, dan minyak goreng dapat disusun secara hati-hati, mengedepankan keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan kesejahteraan masyarakat.




