Frankenstein45.Com – 24 April 2026 | Beberapa pejabat tinggi Iran menanggapi secara bersamaan pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang berulang kali menyebut adanya perpecahan dalam sistem pemerintahan Teheran. Pernyataan tersebut disampaikan dalam beberapa konferensi pers dan wawancara di luar negeri, menimbulkan spekulasi tentang stabilitas politik dalam negeri Iran.
Menanggapi tuduhan itu, Gholam‑Hossein Mohseni‑Ejei, Kepala Peradilan Iran, menegaskan bahwa lembaga peradilan beroperasi selaras dengan konstitusi dan tidak ada indikasi konflik internal. Ia menyatakan, “Kebijakan hukum kami dijalankan secara kolektif dan tidak dipengaruhi oleh tekanan eksternal.”
Selain itu, Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran, menambahkan bahwa segala tuduhan perpecahan hanyalah upaya “psikologis” untuk melemahkan posisi Iran di panggung internasional. Ia menekankan, “Negara kami tetap bersatu dalam menghadapi tantangan, baik dari dalam maupun luar negeri, dan keputusan strategis selalu diambil melalui konsensus antar lembaga.”
Presiden Iran, Ebrahim Raisi, juga menyuarakan pandangan serupa dalam sebuah pernyataan resmi. Raisi menegaskan bahwa seluruh elemen pemerintahan—eksekutif, legislatif, dan yudikatif—bekerja selaras demi kepentingan nasional. “Kita tidak terpecah, melainkan terkoordinasi dengan baik,” ujarnya.
Berikut rangkuman tanggapan resmi para pejabat Iran:
- Kepala Peradilan (Gholam‑Hossein Mohseni‑Ejei): Menolak adanya konflik internal, menegaskan kerja sama lintas lembaga.
- Menteri Luar Negeri (Mohammad Javad Zarif): Menyebut tuduhan Trump sebagai taktik geopolitik, menegaskan persatuan nasional.
- Presiden (Ebrahim Raisi): Menyatakan semua level pemerintahan bersatu, menolak spekulasi perpecahan.
- Parlemen (Majelis Sepuluh): Mengeluarkan resolusi dukungan terhadap kebijakan pemerintah pusat.
Para analis politik menilai bahwa respons kolektif ini menunjukkan strategi Iran untuk memperkuat citra internalnya di tengah tekanan internasional. Sementara itu, pernyataan Trump dianggap sebagai upaya memperkuat narasi kebijakan luar negeri Amerika yang menyoroti keretakan dalam rezim Iran.
Dalam konteks hubungan bilateral yang tegang, pernyataan bersatu dari pejabat Iran dapat memperkuat posisi tawar Tehran dalam negosiasi masa depan, termasuk isu nuklir dan sanksi ekonomi. Namun, pengaruh pernyataan tersebut terhadap kebijakan luar negeri Amerika tetap menjadi pertanyaan terbuka.




