Perusahaan Pelayaran Beralih ke Jalur Darat Akibat Krisis Selat Hormuz
Perusahaan Pelayaran Beralih ke Jalur Darat Akibat Krisis Selat Hormuz

Perusahaan Pelayaran Beralih ke Jalur Darat Akibat Krisis Selat Hormuz

Frankenstein45.Com – 17 Mei 2026 | Beberapa perusahaan pelayaran besar Indonesia mulai memindahkan sebagian besar kargo mereka ke jalur darat setelah gangguan yang signifikan di Selat Hormuz menurunkan kemampuan pengiriman laut.

Latar Belakang Krisis Selat Hormuz

Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, merupakan salah satu jalur laut tersibuk di dunia. Ketegangan geopolitik terbaru, termasuk ancaman penutupan selat dan serangan kapal, menyebabkan peningkatan risiko keamanan serta penurunan kecepatan pengiriman.

Langkah Perusahaan Pelayaran

Untuk mengurangi ketergantungan pada rute laut yang tidak stabil, beberapa operator logistik memilih rute darat melalui jalur Trans‑Asia. Mereka mengalihkan kontainer berisi barang konsumen, bahan baku industri, dan produk pertanian ke jaringan jalan raya yang menghubungkan pelabuhan di Jawa Barat dengan pelabuhan di Timur Tengah.

  • PT. Meratus Line – mengalihkan 30 % volume kargo ke truk kontainer.
  • PT. Samudera Indonesia – menambah armada truk semi‑trailers sebanyak 15 unit.
  • PT. Pelni – bekerjasama dengan perusahaan logistik darat untuk rute Bandung‑Baghdad.

Dampak Ekonomi

Berpindah ke jalur darat meningkatkan biaya transportasi sekitar 20‑25 % dibandingkan tarif laut sebelumnya, namun memberikan kepastian waktu tiba yang lebih baik. Pada kuartal pertama 2024, total nilai kargo yang dialihkan mencapai US$ 150 juta.

Perusahaan Persentase Kargo Darat Biaya Tambahan
Meratus Line 30 % 22 %
Samudera Indonesia 25 % 24 %
Pelni 20 % 21 %

Proyeksi Ke Depan

Jika ketegangan di Selat Hormuz tidak mereda, diperkirakan lebih banyak perusahaan akan memperluas jaringan transportasi darat. Pemerintah Indonesia tengah mempertimbangkan subsidi bahan bakar dan insentif pajak untuk mendukung peralihan ini, sekaligus memperkuat infrastruktur jalan di wilayah perbatasan.

Langkah strategis ini mencerminkan adaptasi cepat industri logistik dalam menghadapi gejolak geopolitik, sekaligus menyoroti pentingnya diversifikasi rute transportasi untuk menjaga kelancaran pasokan barang ke pasar domestik dan internasional.