Frankenstein45.Com – 16 Mei 2026 | Presiden Republik Indonesia menyampaikan dalam sebuah pidato di Nganjuk bahwa proklamator Indonesia, Sukarno, atau yang lebih akrab disapa Bung Karno, bukanlah milik satu partai politik melainkan milik seluruh bangsa. Ia menegaskan bahwa semangat kebangsaan yang dipelopori oleh Sukarno harus menjadi warisan bersama, tidak terikat pada kepentingan partai manapun.
Presiden mengungkapkan bahwa selama masa kepresidenannya ia banyak mempelajari ajaran dan pemikiran para pendiri bangsa, termasuk Sukarno, untuk memahami nilai‑nilai dasar negara. Menurutnya, pemahaman tersebut menjadi landasan bagi kebijakan yang inklusif dan menjunjung tinggi persatuan.
Beberapa poin penting yang ditekankan dalam pidato tersebut antara lain:
- Sukarn0 sebagai simbol perjuangan kemerdekaan bersifat lintas partai.
- Semangat kebangsaan harus menjadi pijakan bersama seluruh elemen masyarakat.
- Pemerintah berkomitmen menjaga warisan nilai-nilai proklamator demi kemajuan Indonesia.
Presiden menutup pidatonya dengan ajakan kepada semua pihak, baik partai politik, organisasi masyarakat, maupun warga negara, untuk mengedepankan kepentingan nasional di atas kepentingan sektoral. Ia berharap bahwa semangat Bung Karno dapat terus menginspirasi generasi muda dalam membangun Indonesia yang lebih bersatu dan maju.




