Frankenstein45.Com – 19 Mei 2026 | Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, kembali mengkritik keras operasi militer Israel yang menahan lebih dari seratus aktivis kemanusiaan dari Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 di perairan Laut Mediterania. Anwar menegaskan bahwa penahanan tersebut melanggar prinsip hak asasi manusia dan menuntut agar Israel segera menjamin keselamatan serta membebaskan para aktivis tanpa syarat.
Global Sumud Flotilla merupakan inisiatif internasional yang mengirimkan bantuan kemanusiaan, termasuk makanan, obat‑obatan, dan perlengkapan medis, ke wilayah Gaza yang terdampak konflik berkepanjangan. Pada upaya ke‑2, lebih dari 100 relawan dari berbagai negara berangkat dengan kapal‑kapal kecil, namun mereka dihentikan oleh Angkatan Laut Israel pada 12 Mei 2024.
Berikut poin‑poin utama yang disampaikan oleh PM Anwar dalam konferensi pers di Kuala Lumpur:
- Israel harus memberikan jaminan keamanan bagi semua aktivis yang masih berada di kapal atau berada di penahanan.
- Penahanan para aktivis harus segera dihentikan dan mereka dibebaskan secara penuh.
- Pemerintah Malaysia siap mengajukan protes diplomatik melalui Kementerian Luar Negeri dan menyerukan intervensi Perserikatan Bangsa‑Bangsa.
- Jika Israel menolak, Malaysia akan mempertimbangkan langkah‑langkah tambahan, termasuk sanksi ekonomi dan politik di forum internasional.
Selain itu, Anwar menambahkan bahwa Malaysia akan meningkatkan upaya bantuan kemanusiaan ke Gaza melalui jalur‑jalur alternatif, mengingat blokade yang diberlakukan Israel telah memperparah krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Sejumlah negara lain, termasuk Turki, Indonesia, dan Malaysia, telah menyuarakan keprihatinan serupa dan menuntut akses bebas bagi organisasi kemanusiaan ke Gaza. Sementara itu, pihak Israel mengklaim bahwa penangkapan tersebut merupakan tindakan keamanan untuk mencegah penyelundupan senjata ke wilayah konflik.
Berikut rangkuman kronologis singkat terkait insiden ini:
| Tanggal | Peristiwa |
|---|---|
| 12 Mei 2024 | Kapalan Global Sumud Flotilla 2.0 dihentikan oleh Angkatan Laut Israel; lebih dari 100 aktivis ditangkap. |
| 13 Mei 2024 | PM Anwar mengeluarkan pernyataan resmi mengecam penahanan dan menuntut pembebasan segera. |
| 14 Mei 2024 | Malaysia mengirim surat protes ke Kedutaan Besar Israel di Kuala Lumpur. |
Para pengamat internasional menilai bahwa tekanan diplomatik dari negara‑negara mayoritas Muslim dapat mempengaruhi kebijakan Israel, terutama jika didukung oleh forum‑forum multilateral seperti PBB dan Uni Afrika.
Dengan menegaskan posisi ini, Malaysia berharap dapat memperkuat solidaritas internasional dalam menegakkan hak asasi manusia dan memastikan bantuan kemanusiaan dapat sampai kepada rakyat Gaza tanpa halangan.




