Frankenstein45.Com – 24 Juni 2026 | Indonesia memiliki cadangan biomassa yang sangat besar, terutama berasal dari limbah agro yang diperkirakan mencapai 80 juta ton setiap tahunnya. Namun, realisasi pemanfaatannya masih jauh di bawah potensi, hanya sekitar 20 juta ton yang secara efektif diolah menjadi energi atau produk lainnya.
Sebagian besar biomassa yang telah dimanfaatkan saat ini diarahkan untuk memenuhi kebutuhan ekspor dan industri, sehingga manfaat domestik bagi sektor energi terbarukan masih terbatas. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa sumber daya yang melimpah belum dimanfaatkan secara optimal untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Untuk mendorong pemanfaatan yang lebih luas, pemerintah dan beberapa lembaga terkait mengusulkan penerapan Indeks Biomassa Indonesia (IBI) sebagai acuan penetapan harga bioenergi. IBI diharapkan dapat memberikan standar transparan yang mencerminkan nilai ekonomis biomassa, sekaligus menstimulasi investasi di bidang teknologi konversi energi.
| Aspek | Data |
|---|---|
| Potensi biomassa limbah agro | 80 juta ton/tahun |
| Biomassa yang dimanfaatkan | 20 juta ton/tahun |
| Persentase pemanfaatan | 25% |
Beberapa kendala yang menghambat optimalisasi penggunaan biomassa antara lain:
- Keterbatasan infrastruktur pengolahan dan transportasi biomassa di daerah pedesaan.
- Kurangnya regulasi yang mengikat harga jual bioenergi, sehingga produsen enggan berinvestasi.
- Persaingan dengan pasar ekspor yang menawarkan harga lebih tinggi.
- Kurangnya kesadaran dan dukungan finansial bagi petani serta pelaku usaha kecil.
Penerapan IBI sebagai acuan harga diharapkan dapat mengatasi beberapa hambatan tersebut dengan memberikan kepastian pasar dan insentif yang lebih adil. Langkah ini juga selaras dengan agenda nasional untuk meningkatkan porsi energi terbarukan dalam bauran energi negara.




