Prabowo dan Bahlil Terbang ke Jepang, Fokus pada Proyek Energi Berkelanjutan Senilai Rp 384 Triliun
Prabowo dan Bahlil Terbang ke Jepang, Fokus pada Proyek Energi Berkelanjutan Senilai Rp 384 Triliun

Prabowo dan Bahlil Terbang ke Jepang, Fokus pada Proyek Energi Berkelanjutan Senilai Rp 384 Triliun

Frankenstein45.Com – 31 Maret 2026 | Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melakukan kunjungan resmi ke Jepang pada Senin (30/3/2026). Kunjungan ini dirancang untuk memperkuat hubungan ekonomi bilateral serta memajukan agenda energi bersih dan hilirisasi. Kedatangan mereka disambut di Imperial Hotel Tokyo, tempat Forum Bisnis Indonesia‑Jepang digelar, dimana 10 nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama strategis ditandatangani.

Nilai total kerja sama yang diumumkan mencapai USD 22,6 miliar atau kira‑kira Rp 384,2 triliun. Kesepakatan mencakup sektor‑sektor strategis seperti eksplorasi minyak dan gas, pengembangan energi panas bumi, serta proyek produksi metanol berbasis pemanfaatan emisi karbon di Bontang, Kalimantan Timur. Selain itu, terdapat komitmen investasi di bidang teknologi digital, ekosistem keuangan inklusif, dan penguatan infrastruktur energi terbarukan.

Dalam pertemuan bilateral dengan Kaisar Jepang Naruhito, Presiden Prabowo menekankan pentingnya diversifikasi sumber energi Indonesia untuk meningkatkan ketahanan energi nasional. Ia menambahkan, “Kerjasama dengan Jepang harus menghasilkan proyek konkret yang dapat mempercepat transisi energi, sekaligus membuka peluang lapangan kerja bagi rakyat Indonesia.”

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan peran aktifnya dalam agenda tersebut. Ia menyoroti dua prioritas utama yang diberikan langsung oleh Presiden Prabowo: percepatan investasi dalam transisi energi dan penyelesaian proyek Blok Masela. Bahlil menegaskan bahwa Inpex, perusahaan energi Jepang, telah memasuki tahap Front‑End Engineering and Design (FEED) pada proyek Masela dengan nilai investasi awal US$ 20,9 miliar, yang berpotensi melampaui Rp 300 triliun setelah penambahan teknologi penangkap karbon (CCS). Tender EPC direncanakan dilaksanakan pada 2026, menandakan komitmen pemerintah untuk mempercepat realisasi proyek.

Proyek Masela menjadi contoh konkret dari upaya Indonesia memperkuat posisi sebagai pemain gas dunia. Bahlil menekankan bahwa optimalisasi pemanfaatan gas untuk kebutuhan domestik serta pengembangan infrastruktur hilirisasi energi menjadi kunci dalam mengurangi ketergantungan pada impor energi fosil. “Kami tidak bisa menunggu kondisi geopolitik yang tidak menentu, oleh karena itu semua sumber energi non‑fosil, mulai dari geothermal, air, surya, hingga angin, harus didorong dengan teknologi yang efisien,” ujarnya.

Selain Masela, agenda lain yang dibahas meliputi proyek produksi metanol di Bontang. Proyek ini bertujuan mengubah emisi karbon menjadi bahan bakar alternatif, sejalan dengan komitmen Indonesia pada net zero emission. Penggunaan teknologi CCUS (Carbon Capture, Utilization, and Storage) diharapkan dapat menurunkan intensitas karbon sektor industri sekaligus menciptakan produk bernilai tambah.

Dalam pernyataan resmi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, pertemuan tersebut menjadi momentum strategis untuk memperkuat hubungan Indonesia‑Jepang di bidang investasi, energi, kelautan, dan digital. Ia menambahkan, “Kehadiran Bahlil dalam lawatan ini menegaskan posisi sektor energi sebagai prioritas utama dalam agenda bilateral. Kami berharap setiap peluang kerja sama dapat diterjemahkan menjadi kesepakatan yang konkrit dan menguntungkan bagi kedua negara.”

Selain Prabowo dan Bahlil, Menteri Luar Negeri Sugiono serta tim senior kabinet turut mendampingi dalam rangkaian pertemuan resmi. Diskusi melibatkan pejabat tinggi pemerintah Jepang, termasuk Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri, serta perwakilan perusahaan energi terkemuka. Semua pihak sepakat untuk mempercepat proses perizinan, memfasilitasi transfer teknologi, dan meningkatkan kolaborasi riset‑pengembangan di bidang energi bersih.

Kesepakatan yang dihasilkan diharapkan dapat menggerakkan aliran investasi langsung asing (FDI) ke sektor energi Indonesia, meningkatkan kapasitas produksi energi terbarukan, serta memperkuat ketahanan energi nasional. Pemerintah menargetkan peningkatan pangsa energi terbarukan dalam bauran energi nasional menjadi 23 persen pada tahun 2025, dengan kontribusi signifikan dari proyek‑proyek yang baru disepakati.

Dengan total nilai investasi mencapai hampir Rp 384 triliun, kunjungan ini menegaskan kembali posisi Indonesia sebagai pasar energi terbesar di Asia Tenggara dan sebagai mitra strategis Jepang dalam upaya transisi energi global.