Frankenstein45.Com – 09 Mei 2026 | Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, menekankan pentingnya percepatan pengembangan energi terbarukan serta integrasi jaringan listrik lintas Borneo dalam pertemuan ASEAN terbaru. Dalam pidatonya, Prabowo menyoroti peran strategis kawasan BIMP‑EAGA (Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina) sebagai katalisator ketahanan energi regional.
- Target utama: meningkatkan porsi energi terbarukan menjadi 23 % dari total konsumsi listrik ASEAN pada tahun 2025.
- Investasi diproyeksikan mencapai US$ 5‑7 miliar, dengan kontribusi dana publik dan swasta.
- Implementasi fase pertama mencakup pembangunan pembangkit tenaga air mikro, solar panel di kawasan pedesaan, serta instalasi sistem penyimpanan energi.
Prabowo juga menekankan pentingnya kerangka regulasi yang harmonis antarnegara anggota, termasuk standar teknis, tarif interkoneksi, dan mekanisme pertukaran energi. Ia mengajak negara‑negara ASEAN untuk membentuk “Task Force Energi Terbarukan” yang akan memantau progres proyek dan memastikan kepatuhan terhadap jadwal.
Selain aspek teknis, Presiden menyoroti manfaat sosial‑ekonomi dari proyek ini. Pembangunan jaringan listrik Trans Borneo diperkirakan akan membuka akses listrik bagi lebih dari 10 juta orang yang belum terlayani, sekaligus menciptakan ribuan lapangan kerja di sektor konstruksi, operasi, dan pemeliharaan.
Dalam konteks geopolitik, Prabowo menegaskan bahwa kemandirian energi akan memperkuat posisi ASEAN dalam negosiasi global mengenai perubahan iklim. Ia berharap kolaborasi ini menjadi contoh bagi wilayah lain di dunia untuk mengintegrasikan sumber energi bersih secara lintas batas.
Dengan dukungan dari negara‑negara ASEAN serta lembaga keuangan internasional, diharapkan jaringan listrik Trans Borneo dapat mulai beroperasi secara parsial pada akhir 2027, dan mencapai kapasitas penuh pada awal 2030.




