Frankenstein45.Com – 12 April 2026 | Presiden Republik Korea, Lee Jae‑myung, pada hari Rabu membagikan sebuah rekaman video yang memperlihatkan aksi kekerasan tentara Angkatan Pertahanan Israel (IDF) terhadap seorang anak Palestina. Dalam keterangan yang menyertai video, Lee menuliskan: “REKAMAN LANGSUNG: Tentara IDF menyiksa seorang anak Palestina dan melemparkannya dari atap. Mereka menyebut diri mereka tentara yang paling bermoral.”
Video tersebut menampilkan seorang anak laki‑laki berusia sekitar tujuh tahun yang berada di atas sebuah gedung di wilayah Gaza. Tanpa peringatan, sekelompok prajurit IDF menyeretnya, memukulnya, dan kemudian melemparkannya ke tanah. Kejadian itu terekam dengan jelas, menimbulkan kegemparan di media sosial dan menambah ketegangan dalam konflik Israel‑Palestina yang telah berlangsung lama.
Reaksi publik di Korea Selatan dan internasional beragam. Di dalam negeri, banyak netizen mengkritik keras tindakan militer Israel dan memuji Presiden Lee karena mengangkat isu tersebut ke panggung global. Di platform media sosial, tagar #LeeJaeMyung, #IsraelViolence, dan #PalestineChild menjadi trending dalam hitungan jam.
- Reaksi Zionis: Beberapa organisasi pro‑Israel menanggapi video tersebut dengan menyatakan bahwa klip itu diambil di luar konteks dan bahwa Israel selalu mematuhi standar hukum humaniter. Mereka menuduh video tersebut merupakan propaganda yang dimanipulasi untuk menjelekkan citra militer Israel.
- Reaksi Pemerintah Israel: Juru bicara Kementerian Pertahanan Israel menolak tuduhan penyiksaan, menyatakan bahwa operasi militer di Gaza bersifat defensif dan bahwa tidak ada bukti resmi yang mendukung klaim penembakan anak secara sengaja.
- Reaksi Organisasi HAM: Human Rights Watch dan Amnesty International meminta penyelidikan independen atas insiden tersebut, menekankan pentingnya akuntabilitas bagi semua pihak yang terlibat dalam konflik bersenjata.
Sejumlah analis politik menilai bahwa langkah Presiden Lee membagikan video tersebut dapat meningkatkan tekanan diplomatik pada Israel, sekaligus menegaskan posisi Korea Selatan yang mendukung penyelesaian damai dan menolak pelanggaran hak asasi manusia.
Di tengah sorotan internasional, video ini menambah daftar insiden kekerasan yang memperburuk persepsi publik terhadap konflik yang terus berlarut‑larut. Masyarakat global kini menuntut transparansi, keadilan, dan langkah konkret untuk melindungi warga sipil, terutama anak‑anak yang berada di zona konflik.







