Frankenstein45.Com – 09 Mei 2026 | Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan kembali komitmen pemerintah dalam memperkuat Ekonomi Biru, sebuah konsep yang menitikberatkan pada pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan. Dalam sebuah acara yang diadakan di Pelabuhan Tanjung Perak, Presiden menyoroti pentingnya sektor kelautan dan perikanan bagi peningkatan kesejahteraan nelayan serta kemandirian ekonomi nasional.
Berbagai kebijakan strategis telah dirumuskan, antara lain peningkatan investasi pada infrastruktur pelabuhan, modernisasi armada penangkapan ikan, serta pengembangan teknologi digital untuk mempermudah akses pasar bagi para nelayan. Pemerintah juga berencana memperluas kawasan perlindungan laut (Marine Protected Areas) guna menjaga keberlanjutan stok ikan.
- Pengadaan kapal penangkap ikan berbahan bakar ramah lingkungan sebanyak 1.500 unit dalam lima tahun ke depan.
- Pembentukan pusat pelatihan maritim di 12 provinsi dengan kurikulum yang menekankan teknik penangkapan berkelanjutan.
- Penerapan platform digital yang menghubungkan nelayan langsung dengan pembeli, mengurangi perantara dan meningkatkan margin keuntungan.
Target jangka menengah pemerintah meliputi peningkatan pendapatan rata‑rata nelayan sebesar 30 % pada tahun 2028, serta penurunan tingkat penangkapan ikan berlebih hingga 15 % dibandingkan data tahun 2023.
| Indikator | 2023 | Target 2028 |
|---|---|---|
| Pendapatan rata‑rata nelayan (juta Rupiah) | 45 | 58,5 |
| Persentase penangkapan berlebih | 22 % | 7 % |
| Jumlah kapal ramah lingkungan | 400 | 1.900 |
Presiden menutup pidatonya dengan menyerukan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, serta komunitas nelayan untuk mewujudkan visi Ekonomi Biru yang inklusif. Ia menekankan bahwa kesejahteraan nelayan bukan hanya menjadi prioritas, melainkan juga bagian integral dari ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.




