Frankenstein45.Com – 27 Juni 2026 | Produksi beras nasional mengalami peningkatan pada tahun terakhir, namun harga konsumen masih belum menunjukkan penurunan signifikan. Kementerian Pertanian melalui Badan Pengawas Harga Pangan (KASAI) menyoroti bahwa kenaikan produksi belum cukup mengimbangi tekanan harga di pasar.
Berikut beberapa poin penting yang menjadi fokus pembahasan:
- Peningkatan produksi: Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras mencapai 36,5 juta ton pada tahun 2023, naik sekitar 2,5% dibandingkan tahun sebelumnya.
- Harga beras tetap tinggi: Meskipun produksi naik, indeks harga beras konsumen masih berada di level yang relatif tinggi, dipengaruhi oleh biaya logistik dan distribusi.
- Distribusi dan tata niaga: KASAI menekankan perlunya perbaikan sistem distribusi serta tata niaga agar surplus produksi dapat tersalurkan lebih efisien ke pasar akhir.
- Dampak pada konsumen: Tanpa perbaikan pada rantai pasok, konsumen tidak akan merasakan manfaat langsung dari peningkatan produksi.
Data produksi dan harga dapat dilihat pada tabel berikut:
| Tahun | Produksi (juta ton) | Persentase perubahan | Indeks Harga Konsumen (IHK) beras |
|---|---|---|---|
| 2022 | 35,6 | – | 115,3 |
| 2023 | 36,5 | +2,5% | 118,7 |
Untuk menurunkan harga, KASAI mengusulkan beberapa langkah, antara lain:
- Optimalisasi jaringan distribusi dari daerah produksi ke daerah konsumen.
- Peningkatan transparansi harga di pasar grosir.
- Pemberian insentif kepada pelaku usaha logistik yang dapat menurunkan biaya transportasi.
- Penguatan peran pasar tradisional dan modern dalam menyalurkan beras secara merata.
Dengan mengatasi hambatan distribusi dan tata niaga, diharapkan surplus produksi beras dapat memberikan manfaat nyata bagi konsumen, menurunkan beban biaya pangan, dan memperkuat ketahanan pangan nasional.




