Frankenstein45.Com – 10 Mei 2026 | PSSI kembali menegaskan komitmennya dalam menegakkan disiplin dan keamanan di dunia sepak bola Indonesia setelah dua insiden dramatis menimpa kompetisi domestik belakangan ini. Sekjen PSSI, Yunus Nusi, secara tegas mengecam aksi tendangan bergaya “kungfu” yang dilakukan oleh seorang pemain Timnas U-20 dalam laga persahabatan internasional, sekaligus mengutuk kerusuhan suporter yang meletus usai pertandingan play‑off antara Persipura Jayapura dan Adhyaksa FC di Stadion Lukas Enembe, Jayapura, pada Jumat, 8 Mei 2026.
Tendangan “Kungfu” Pemain Timnas U-20: Pelanggaran Berat yang Tidak Bisa Dibiarkan
Dalam pertandingan persahabatan melawan tim junior Asia Timur, seorang gelandang Timnas U-20 melakukan gerakan tendangan berlebih yang menyerupai aksi seni bela diri “kungfu”. Gerakan tersebut tidak hanya melanggar aturan FIFA tentang tindakan keras, tetapi juga berpotensi mengakibatkan cedera serius pada lawan. Setelah meninjau rekaman video, PSSI menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan pelanggaran kode etik pemain dan menuntut Komisi Disiplin PSSI untuk mengusut tuntas kasus ini.
Yunus Nusi menegaskan, “Kami tidak akan mentolerir perilaku yang mengancam keselamatan pemain lain, apapun latar belakangnya. Komisi Disiplin akan segera melakukan evaluasi dan memberi sanksi yang setimpal, termasuk kemungkinan skorsing dan denda.” Ia menambahkan bahwa insiden ini terjadi di tengah pengawasan ketat FIFA pasca tragedi Kanjuruhan, sehingga PSSI harus menunjukkan contoh disiplin yang kuat.
Kerusuhan Suporter Usai Laga Persipura vs Adhyaksa FC: Ancaman Kedamaian Sepak Bola
Pada malam yang sama, pertandingan play‑off promosi Championship 2025/2026 antara Persipura Jayapura dan Adhyaksa FC berakhir dengan skor tipis 0‑1 untuk kemenangan tuan rumah. Kekalahan ini memicu amukan suporter Persipura yang langsung memasuki lapangan, melemparkan botol, dan merusak fasilitas stadion. Beberapa pemain Adhyaksa FC serta ofisial harus dievakuasi dengan bantuan kepolisian.
Yunus Nusi kembali berbicara, menyatakan bahwa tindakan vandalisme dan pengibaran simbol politik Bintang Kejora di dalam dan luar arena tidak dapat dibiarkan. “Kami menyayangkan kericuhan ini, terutama karena sepak bola Indonesia sedang berada di bawah sorotan internasional. Kami menghimbau semua pihak untuk menjaga ketertiban, mengingat kami masih dalam masa pemantauan FIFA,” ujarnya.
Insiden ini menambah daftar panjang peristiwa yang menguji integritas sepak bola tanah air, mulai dari tragedi Kanjuruhan hingga aksi politik di stadion. PSSI menekankan pentingnya kolaborasi antara klub, aparat keamanan, dan suporter untuk menciptakan lingkungan yang aman dan sportif.
Tindakan Lanjutan PSSI
- Komisi Disiplin PSSI akan menyelidiki kasus tendangan “kungfu” dan menentukan sanksi administratif serta finansial.
- PSSI akan mengadakan rapat koordinasi dengan kepolisian, penyelenggara liga, dan perwakilan suporter untuk mengevaluasi protokol keamanan stadion.
- Pengawasan FIFA akan terus dipantau, dan PSSI berkomitmen mematuhi rekomendasi FIFA terkait manajemen kerusuhan.
Dengan dua insiden sekaligus, PSSI menegaskan bahwa sepak bola Indonesia tidak akan kembali ke era kekerasan dan anarki. Semua pemangku kepentingan diharapkan bersatu demi menjaga nama baik olahraga nasional dan memastikan pertandingan tetap menjadi ajang persaingan sehat yang menginspirasi generasi muda.







