Frankenstein45.Com – 12 Mei 2026 | Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada Senin (11 Mei 2026) mengumumkan pelantikan lima pejabat eselon II baru di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sekaligus menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga disiplin fiskal di tengah sorotan publik atas skandal pengadaan motor listrik yang melibatkan Direktorat Jenderal Anggaran.
Profil Pejabat Baru dan Tugas Utama
Kelima pejabat yang dilantik meliputi:
- Rudi Hartono – Sekretaris Direktur Jenderal Perbendaharaan, bertanggung jawab mengawasi kebijakan pembayaran dan likuiditas negara.
- Siti Nurbaya – Kepala Biro Perencanaan Fiskal, memimpin penyusunan proyeksi penerimaan dan pengeluaran APBN.
- Adi Pratama – Deputi Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, mengelola risiko utang publik dan strategi pembiayaan jangka panjang.
- Maria Lestari – Deputi Pengawasan Anggaran, menguatkan mekanisme kontrol internal pada seluruh unit penganggaran.
- Joko Santoso – Deputi Pengembangan Kebijakan Pajak, mempercepat reformasi perpajakan untuk meningkatkan basis pajak.
Purbaya menekankan bahwa masing‑masing pejabat tersebut dipilih berdasarkan rekam jejak integritas dan keahlian teknis, guna menutup celah‑celah yang teridentifikasi setelah insiden kebobolan sistem anggaran.
Latar Belakang: Penggantian Dirjen dan Skandal Motor Listrik
Purbaya sebelumnya telah mencopot dua Direktur Jenderal pada April 2026: Febrio Nathan Kacaribu (Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal) dan Luky Alfirman (Dirjen Anggaran). Penggantian tersebut dipicu oleh temuan kebobolan pada anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mengizinkan pengadaan 21.801 motor listrik meski telah ditolak secara eksplisit oleh Menteri Keuangan.
Investigasi menunjukkan bahwa celah keamanan pada perangkat lunak DJA memungkinkan anggaran tersebut “melenggang” keluar tanpa kontrol yang memadai. Luky Alfirman, yang memegang gelar doktor ekonomi dan memiliki pengalaman panjang sejak 1995, dianggap ceroboh dalam mengawasi proses tersebut. Sementara itu, Febrio Nathan Kacaribu dinilai tidak mampu menegakkan disiplin fiskal pada tingkat strategis.
Reaksi Pemerintah dan Upaya Perbaikan
Dalam konferensi pers APBN KiTa, Purbaya menyatakan, “Kami menolak anggaran motor listrik tersebut, namun sistem kami terpapar celah yang harus segera diperbaiki.” Ia menambahkan bahwa perbaikan perangkat lunak DJA sedang berjalan dan akan diuji ketat sebelum kembali dioperasikan.
Untuk memperkuat pengawasan, Deputi Pengawasan Anggaran yang baru, Maria Lestari, akan memimpin tim audit internal yang memperluas pemantauan real‑time pada setiap usulan anggaran. Tim tersebut akan mengintegrasikan sistem pelaporan berbasis blockchain guna meningkatkan transparansi dan mengurangi risiko manipulasi data.
Dampak Terhadap Disiplin Fiskal Nasional
Insiden motor listrik menimbulkan keraguan publik mengenai kemampuan Kemenkeu menjaga disiplin fiskal, terutama di tengah upaya pemerintah menurunkan defisit dan memperkuat cadangan devisa. Analisis lembaga independen memperkirakan bahwa kebocoran anggaran sebesar Rp 1,2 triliun dapat memperbesar tekanan pada neraca negara jika tidak segera diatasi.
Dengan penunjukan pejabat baru, diharapkan terdapat sinergi yang lebih baik antara perencanaan, pengawasan, dan implementasi kebijakan fiskal. Penguatan koordinasi antara Kemenkeu dan Badan Pengadaan Nasional (BGN) juga menjadi prioritas, mengingat BGN tetap melanjutkan pembelian motor listrik meski menolak usulan sebelumnya.
Harapan Kedepan
Purbaya menutup sambutan dengan menegaskan bahwa “disiplin fiskal bukan pilihan, melainkan keharusan bagi kelangsungan pembangunan nasional.” Ia mengajak seluruh aparatur negara untuk bersikap proaktif, meningkatkan kompetensi teknis, dan menegakkan etika kerja yang tinggi.
Langkah-langkah perbaikan yang telah direncanakan mencakup pelatihan intensif bagi staf DJA, audit eksternal berkala, serta penerapan mekanisme whistleblowing yang lebih kuat. Jika berhasil, Kemenkeu berharap dapat mengembalikan kepercayaan publik dan memperkuat posisi Indonesia dalam peringkat transparansi fiskal global.
Secara keseluruhan, pelantikan lima pejabat eselon II baru dan penekanan pada disiplin fiskal menandai fase revitalisasi internal Kemenkeu setelah krisis pengadaan motor listrik, dengan harapan dapat menstabilkan keuangan negara dan memastikan penggunaan anggaran yang tepat sasaran.




