Frankenstein45.Com – 05 Mei 2026 | Ekonom senior Purbaya menegaskan bahwa bila pemerintah menghapus subsidi BBM dan menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dengan harga minyak mentah di pasar internasional, tekanan inflasi akan meningkat secara signifikan. Pernyataan ini menyoroti dilema kebijakan antara menurunkan beban fiskal negara dan melindungi daya beli masyarakat.
Beberapa faktor yang menjadi dasar pernyataan tersebut antara lain:
- Kenaikan harga minyak dunia: Harga minyak mentah yang diperdagangkan di bursa internasional telah mengalami volatilitas tinggi dalam beberapa tahun terakhir, dipengaruhi oleh geopolitik, produksi OPEC, dan transisi energi.
- Transmisi kenaikan ke harga BBM: Tanpa subsidi, biaya produksi dan distribusi BBM akan langsung tercermin pada harga eceran di SPBU, meningkatkan biaya transportasi dan logistik.
- Dampak pada harga barang dan jasa: Karena transportasi merupakan komponen penting dalam rantai pasok, kenaikan BBM akan menular ke harga makanan, kebutuhan pokok, dan layanan lainnya, yang pada gilirannya mendorong indeks inflasi naik.
Selain dampak inflasi, Purbaya juga mengingatkan beberapa konsekuensi lain yang perlu dipertimbangkan pemerintah:
- Tekanan politik: Kenaikan BBM secara langsung terasa oleh konsumen, terutama di wilayah dengan pendapatan rendah, sehingga dapat memicu protes sosial.
- Ketergantungan energi impor: Indonesia masih mengimpor sebagian besar minyak mentah; fluktuasi nilai tukar rupiah dapat memperburuk efek kenaikan harga.
- Alternatif kebijakan: Daripada langsung menghapus subsidi, pemerintah dapat melakukan penyesuaian bertahap, memperkenalkan skema bantuan langsung tunai, atau meningkatkan investasi pada energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungan pada BBM.
Dengan mempertimbangkan semua aspek tersebut, Purbaya menyarankan agar pemerintah menyeimbangkan antara kebutuhan fiskal dan stabilitas ekonomi makro, serta mengkomunikasikan kebijakan secara transparan untuk meminimalkan kejutan pasar.




