Frankenstein45.Com – 11 April 2026 | Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan pada konferensi pers internasional bahwa ekonomi dunia kini berada di ambang krisis serius akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ia menyoroti bahwa perang tidak hanya menimbulkan kerugian militer, melainkan mengoyak stabilitas pasar energi, memperburuk inflasi, serta mengganggu rantai pasokan global.
Situasi Politik dan Ekonomi Amerika Serikat
Sejumlah analis, termasuk profesor Mohamad Elmasry dari Institut Studi Pascasarjana Doha, menyebut konflik dengan Iran sebagai bencana politik dan ekonomi bagi Washington. Menurut Elmasry, meski Amerika melancarkan serangkaian serangan udara intens selama enam minggu, rezim Tehran tetap kuat, jaringan proksi tak tergoyahkan, serta masih menguasai rudal dan drone. Selain itu, Iran kini berhasil mengendalikan Selat Hormuz, jalur laut yang menyalurkan sekitar 20 persen minyak dunia, sehingga menambah tekanan pada kebijakan luar negeri AS.
Iran bahkan menerapkan tarif tol baru bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz, memanfaatkan aset kripto dan yuan China melalui sistem pembayaran lintas batas CIPS. Tarif tersebut dapat mencapai dua juta dolar per kapal tanker, setara dengan puluhan miliar rupiah, yang menambah beban biaya logistik bagi perusahaan pelayaran internasional.
Dampak Konflik Terhadap Pasokan Energi Global
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, mengkonfirmasi bahwa ketegangan di Timur Tengah telah mengakibatkan guncangan signifikan pada pasokan energi. Menurutnya, produksi minyak global turun sekitar 13 persen dan pasokan gas alam cair (LNG) menurun 20 persen per hari. Penurunan ini memicu penutupan kilang minyak di beberapa negara, mengakibatkan krisis bahan bakar dan pangan yang meluas.
- Penurunan produksi minyak sebesar 13% menurunkan pendapatan ekspor bagi negara-negara produsen.
- Pengurangan pasokan LNG sebesar 20% meningkatkan harga gas di pasar spot, mempengaruhi industri manufaktur dan transportasi.
- Kilangan produksi menimbulkan penutupan kilang, memicu lonjakan harga bahan bakar di wilayah Asia dan Eropa.
Reaksi Pasar dan Kebijakan Moneter
Pasar keuangan global menanggapi situasi dengan volatilitas tinggi. Indeks saham utama mengalami penurunan, sementara nilai tukar dolar menguat karena permintaan safe‑haven. Bank sentral di beberapa negara mempertimbangkan penyesuaian suku bunga untuk menahan inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi.
Putin menambahkan bahwa ketegangan ini memperparah ketergantungan dunia pada sistem keuangan Barat, khususnya jaringan SWIFT. Iran, dengan mengalihkan pembayaran lewat CIPS, berupaya mengurangi kontrol Amerika atas arus keuangan internasional, yang berpotensi memperluas fragmentasi sistem moneter global.
Upaya Diplomatik dan Prospek Kedepan
Baru-baru ini, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata dua minggu dengan Iran, yang disambut dengan harapan oleh komunitas internasional. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz masih bergantung pada kesepakatan lebih luas, termasuk peran Israel yang terlibat dalam konflik regional.
Para pakar menilai bahwa meskipun gencatan senjata dapat meredakan tekanan jangka pendek, ketegangan struktural antara Amerika, Israel, dan Iran tetap ada. Mereka memperkirakan bahwa tanpa penyelesaian politik yang komprehensif, risiko gangguan pasokan energi akan terus berlanjut, memperpanjang dampak negatif pada pertumbuhan ekonomi global.
Putin menutup dengan peringatan bahwa dunia tidak boleh mengabaikan sinyal peringatan ini. Ia menyerukan kerja sama multilateral, transparansi perdagangan, serta diversifikasi sumber energi sebagai langkah strategis untuk mengurangi kerentanan ekonomi di masa depan.




