Rainforest Alliance Gagungkan Transisi Menuju Pertanian Regeneratif
Rainforest Alliance Gagungkan Transisi Menuju Pertanian Regeneratif

Rainforest Alliance Gagungkan Transisi Menuju Pertanian Regeneratif

Frankenstein45.Com – 25 Juni 2026 | Laporan tahunan Rainforest Alliance (RA) edisi 2025 yang berjudul Regeneration Takes Root menyoroti upaya global untuk mengalihkan praktik pertanian konvensional ke model pertanian regeneratif. Laporan ini menegaskan bahwa regenerasi tanah, air, dan keanekaragaman hayati menjadi landasan utama dalam mencapai ketahanan pangan dan mitigasi perubahan iklim.

Fokus Utama Laporan

RA menekankan tiga pilar utama: restorasi ekosistem, peningkatan kesejahteraan petani, dan penciptaan nilai ekonomi yang berkelanjutan. Pada tahun 2024, lebih dari 12 juta hektar lahan pertanian di 25 negara berhasil diimplementasikan teknik regeneratif, termasuk penanaman penutup tanah, rotasi tanaman, dan pengurangan penggunaan pupuk kimia sintetis.

Inisiatif di Indonesia

Indonesia menjadi salah satu negara prioritas dalam program ini. Melalui kemitraan dengan lembaga pemerintah, koperasi tani, dan organisasi masyarakat sipil, RA membantu petani kecil mengadopsi praktik seperti agroforestry, kompos organik, dan pengelolaan air hujan. Hingga akhir 2024, lebih dari 45.000 petani di Jawa Barat, Sumatera Utara, dan Sulawesi Tengah telah beralih ke sistem pertanian regeneratif, menghasilkan peningkatan produktivitas rata‑rata sebesar 18 % dan penurunan erosi tanah sebesar 32 %.

Langkah-Langkah Kunci

  • Pelatihan teknis langsung di lapangan selama tiga hari, meliputi identifikasi tanah, teknik penanaman penutup, dan pengolahan kompos.
  • Penyediaan sertifikasi “Regenerative Agriculture” yang memberi akses pasar premium bagi produk yang memenuhi standar lingkungan.
  • Pembiayaan mikro berbasis hasil panen untuk mendukung investasi peralatan dan bahan organik.
  • Monitoring berbasis satelit dan sensor tanah untuk mengukur dampak jangka panjang.

RA menargetkan penambahan 20 juta hektar lahan pertanian regeneratif pada periode 2025‑2030, dengan Indonesia berkontribusi setidaknya 1,5 juta hektar. Upaya ini diharapkan dapat menurunkan emisi gas rumah kaca sektor pertanian nasional sebesar 8 % dan meningkatkan pendapatan petani rata‑rata sebesar 12 %.

Dengan menekankan kolaborasi lintas sektor dan penyediaan data transparan, Rainforest Alliance berupaya menjadikan pertanian regeneratif bukan sekadar pilihan, melainkan standar baru dalam pengelolaan sumber daya alam.