Frankenstein45.Com – 06 Juni 2026 | Pemerintah tengah mempertimbangkan kebijakan penyeragaman kemasan rokok guna meningkatkan kontrol kesehatan publik. Namun, kebijakan tersebut menuai kritik tajam karena diperkirakan dapat memicu kemiskinan baru serta pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal di sektor industri rokok.
GAPPRI (Gabungan Pengusaha Rokok Indonesia) menilai bahwa standar kemasan yang lebih ketat akan meningkatkan biaya produksi, terutama bagi produsen rokok tradisional yang belum memiliki kapasitas finansial untuk menyesuaikan diri. Akibatnya, banyak usaha kecil dan menengah (UKM) berisiko terpaksa menutup operasionalnya.
Berikut beberapa dampak yang diidentifikasi:
- Kenaikan biaya bahan baku dan proses produksi karena kebutuhan kemasan standar.
- Penurunan daya saing produk lokal dibandingkan produk impor yang sudah memenuhi standar internasional.
- Potensi PHK massal, terutama di pabrik-pabrik rokok kecil yang tidak mampu beradaptasi.
- Penurunan pendapatan pekerja yang bergantung pada industri rokok, berpotensi meningkatkan angka kemiskinan di daerah produksi.
GAPPRI menyerukan Kementerian Kesehatan untuk meninjau kembali rencana tersebut demi menjaga stabilitas ekonomi serta melindungi lapangan kerja. Organisasi tersebut mengusulkan pendekatan bertahap dan pemberian subsidi atau insentif kepada produsen yang berkomitmen pada standar baru.
Sementara itu, kelompok masyarakat sipil dan aktivis kesehatan tetap mendukung kebijakan penyeragaman sebagai upaya mengurangi konsumsi rokok, meski mengakui perlunya mitigasi sosial-ekonomi yang memadai.
Diskusi antara pemerintah, industri, dan lembaga terkait diharapkan dapat menghasilkan kebijakan yang seimbang antara tujuan kesehatan masyarakat dan keberlanjutan ekonomi.




