Frankenstein45.Com – 26 Mei 2026 | Jemaah haji Republik Indonesia memulai rangkaian ibadah puncak pada Senin, 25 Mei 2026, dengan melakukan Tarwiyah di Mina dan kemudian bergerak menuju Padang Arafah. Secara total terdapat 11.750 orang yang terdaftar mengikuti Tarwiyah, sebuah ibadah sunnah yang diyakini sebagian jemaah pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW saat menunaikan haji.
Tarwiyah: Ibadah Sunnah di Luar SOP Operasional
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menegaskan bahwa Tarwiyah tidak termasuk dalam standar operasional prosedur (SOP) haji 2026. Meskipun demikian, pemerintah tidak melarang pelaksanaannya. Kepala Seksi Bimbingan Ibadah, Erti Herlina, menjelaskan bahwa jemaah yang ingin melakukan Tarwiyah wajib melapor terlebih dahulu, menandatangani surat pernyataan, dan tetap berada di bawah pengawasan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Hal ini dilakukan untuk menjamin keamanan dan memantau pergerakan jemaah secara real time.
Erti menambahkan, satu hal yang dilarang tegas adalah perjalanan Tarwiyah dengan berjalan kaki dari Makkah menuju Mina. Metode tersebut dianggap berisiko tinggi terhadap keselamatan jemaah, sehingga hanya diperbolehkan menggunakan transportasi resmi yang disediakan oleh penyelenggara.
Pergerakan Jemaah ke Arafah dalam Tiga Gelombang
Setelah menyelesaikan Tarwiyah, jemaah secara bertahap berangkat menuju Padang Arafah. Penyelenggaraan mengadopsi skema tiga gelombang untuk menghindari penumpukan dan kemacetan di jalur utama. Jadwal keberangkatan dalam waktu Arab Saudi (WAS) adalah sebagai berikut:
- Gelombang Pagi (07.00 – 10.00): 74.640 jemaah
- Gelombang Siang (11.30): 68.800 jemaah
- Gelombang Sore (16.30): 62.200 jemaah
Seluruh jemaah ditargetkan menempati tenda di Arafah paling lambat pukul 23.00 WAS, sehingga dapat beristirahat dan memulihkan stamina sebelum pelaksanaan wukuf pada keesokan harinya.
Keamanan dan Kesehatan Dijaga Ketat
Petugas PPIH terus memantau pergerakan tiap kloter. Kloter pertama yang tiba di Arafah adalah kloter 75 (Embarkasi Solo) dan kloter 34 (Embarkasi Kertajati). Setibanya, mereka disambut oleh petugas dan diarahkan ke tenda masing-masing yang telah dilengkapi dengan data manifes jemaah.
Selain pengawasan fisik, Kemenhaj mengingatkan jemaah untuk mematuhi larangan melakukan aktivitas di luar tenda Arafah, terutama saat lempar jumrah. Musyrif Dini Haji Indonesia 2026, KH Asrorun Niam Sholeh, menekankan pentingnya kesiapan fisik dan mental agar ibadah wukuf dapat dilaksanakan dengan lancar dan sah. Ia juga menegaskan bahwa kehadiran di Arafah pada tanggal 8 Zulhijah adalah rukun utama haji.
Juru bicara Kemenhaj, Maria Ulfa Assegaf, menambahkan bahwa jemaah diimbau menjaga kesehatan, menghindari kerumunan yang tidak terkoordinasi, serta mematuhi arahan petugas kloter, sektor, dan pembimbing ibadah. Disiplin dalam mengikuti jadwal resmi dianggap kunci untuk mencegah kepadatan dan potensi kecelakaan.
Respons Masyarakat dan Tantangan Logistik
Jumlah jemaah yang memilih Tarwiyah menunjukkan antusiasme tinggi terhadap praktik ibadah sunnah, meski berada di luar SOP. Pemerintah tetap memberikan kebebasan asalkan prosedur pelaporan dan pengawasan terpenuhi. Tantangan logistik utama terletak pada koordinasi transportasi dan penyediaan fasilitas di Mina serta Arafah, mengingat total jemaah haji Indonesia mencapai 221 ribu orang.
Dengan penerapan tiga gelombang dan larangan berjalan kaki, Kemenhaj berharap dapat menurunkan risiko cedera, kelelahan, serta masalah kesehatan lainnya. Upaya ini selaras dengan kebijakan keselamatan yang ditekankan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam seruan untuk mengutamakan keselamatan saat melaksanakan lempar jumrah.
Secara keseluruhan, pelaksanaan Tarwiyah yang diperbolehkan namun tidak difasilitasi, kedatangan jemaah di Arafah secara teratur, serta pengawasan ketat oleh PPIH menandakan komitmen pemerintah Indonesia untuk menjamin ibadah haji berjalan aman, tertib, dan sesuai dengan prinsip syariah.
Dengan koordinasi yang matang antara Kemenhaj, PPIH, dan pembimbing ibadah, diharapkan ribuan jemaah Indonesia dapat menyelesaikan fase puncak haji dengan lancar, menjaga kesehatan, serta melaksanakan ibadah dengan khusyuk.




