Frankenstein45.Com – 24 April 2026 | Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa nilai tukar rupiah saat ini berada pada posisi yang masih undervalued dibandingkan dengan fundamental ekonomi Indonesia. Penilaian tersebut memberikan ruang bagi otoritas moneter untuk melakukan intervensi yang dapat memperkuat mata uang tanpa mengorbankan stabilitas.
Berbagai faktor eksternal, termasuk ketegangan geopolitik yang memengaruhi arus modal global, menjadi tantangan utama. BI menegaskan bahwa meski berada di tengah tekanan internasional, bank sentral tetap berkomitmen menjaga nilai tukar yang stabil melalui kebijakan moneter yang fleksibel.
Berikut langkah‑langkah strategis yang dipaparkan oleh BI:
- Memantau pergerakan pasar valuta asing secara real‑time untuk mengidentifikasi risiko spekulatif.
- Mengoptimalkan penggunaan instrumen intervensi, termasuk penjualan devisa bila diperlukan.
- Menjaga tingkat inflasi tetap terkendali sebagai prasyarat kebijakan suku bunga yang mendukung nilai tukar.
- Berkoordinasi dengan otoritas fiskal untuk memastikan kebijakan fiskal tidak menambah tekanan pada rupiah.
Selain itu, BI menyoroti bahwa undervaluation rupiah dapat meningkatkan daya saing ekspor Indonesia, sekaligus menarik investasi asing yang menginginkan aset dalam mata uang yang relatif murah.
Dalam jangka menengah, harapan BI adalah terwujudnya penguatan rupiah secara bertahap, sejalan dengan perbaikan neraca perdagangan dan stabilitas politik dalam negeri.




