Frankenstein45.Com – 13 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir. Penurunan ini sejalan dengan tren melemahnya mata uang di sejumlah negara Asia, termasuk Thailand, Filipina, dan Malaysia.
Beberapa faktor yang memicu pelemahan rupiah antara lain:
- Kebijakan pengetatan moneter Federal Reserve AS yang meningkatkan daya tarik dolar.
- Kenaikan harga komoditas impor, khususnya energi.
- Aliran modal keluar menuju aset berbasis dolar.
- Sentimen pasar global yang masih cenderung risk‑averse.
Berikut perbandingan perubahan nilai tukar sejak awal tahun 2024 untuk empat negara Asia:
| Negara | Perubahan Rupiah/ Dollar (%) |
|---|---|
| Indonesia | -5,2 |
| Thailand | -7,8 |
| Filipina | -9,1 |
| Malaysia | -6,5 |
Data menunjukkan bahwa depresiasi rupiah berada di level yang lebih ringan dibandingkan Thailand dan Filipina, sekaligus sedikit lebih baik dari Malaysia. Hal ini memberi ruang bagi pemerintah untuk menyesuaikan kebijakan fiskal dan moneter tanpa harus mengambil langkah drastis.
Ekonom Muhammadiyah menambahkan bahwa upaya memperkuat daya saing ekspor, memperluas basis pajak, serta menjaga kestabilan politik tetap menjadi prioritas utama. Jika kebijakan‑kebijakan tersebut dijalankan secara konsisten, risiko depresiasi tajam dapat diminimalisir.
Secara keseluruhan, meski rupiah berada di posisi lemah terhadap dolar, perspektif domestik tetap optimis. Stabilitas makroekonomi Indonesia, dukungan kebijakan yang adaptif, dan posisi relatif yang lebih baik dibandingkan negara‑negara sekitarnya menjadi alasan utama mengapa para analis menganggap kondisi saat ini masih lebih menguntungkan.




