Rupiah Merosot di Bawah Rp17.800: Geopolitik, Defisit Fiskal, dan Risiko PHK Mengguncang Pasar
Rupiah Merosot di Bawah Rp17.800: Geopolitik, Defisit Fiskal, dan Risiko PHK Mengguncang Pasar

Rupiah Merosot di Bawah Rp17.800: Geopolitik, Defisit Fiskal, dan Risiko PHK Mengguncang Pasar

Frankenstein45.Com – 27 Mei 2026 | Jakarta, 26 Mei 2026 – Nilai tukar rupiah terus berada di zona tekanan berat pada perdagangan Selasa, menembus level Rp17.800 per dolar AS. Pembukaan pada pukul 08.30 WIB tercatat melemah 0,02% menjadi Rp17.747, sementara penutupan pada sore hari berakhir di Rp17.803, menandakan penurunan 0,40% atau 87,9 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.

Faktor eksternal memperparah pelemahan

Pasar mata uang global masih dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Meski ada sinyal awal perbaikan dalam negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran, serangan militer terbaru AS di wilayah selatan Iran menimbulkan keraguan tentang kelanjutan proses perdamaian. Analis Ibrahim Assuaibi menilai bahwa potensi kegagalan kesepakatan, terutama terkait isu uranium dan dana beku sejak 1970-an, dapat menambah volatilitas dolar dan menekan rupiah lebih lanjut.

Selain itu, harga minyak mentah tetap tinggi di atas US$100 per barel, meski mengalami penurunan ringan. Harga energi yang tinggi menambah tekanan pada neraca perdagangan Indonesia, mengingat negara masih menjadi importir bersih minyak. Kenaikan harga komoditas energi juga memperkuat dolar sebagai aset safe‑haven, mengurangi daya tarik aset berisiko seperti rupiah.

Faktor internal memperparah sentimen negatif

Di dalam negeri, risiko defisit fiskal menjadi sorotan utama. Defisit transaksi berjalan pada kuartal I/2026 melebar ke level terdalam dalam enam tahun terakhir, menambah beban pada cadangan devisa. Kebijakan regulasi ekspor satu pintu yang mewajibkan eksportir menyimpan hasil penjualan dalam bank lokal selama 12 bulan menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku pasar. Meskipun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan potensi penguatan tajam hingga Rp15.000, pasar masih mengabaikan pernyataan tersebut karena fundamental ekonomi yang masih lemah.

Selain itu, ekspektasi penurunan rating utang pemerintah oleh lembaga pemeringkat internasional menambah tekanan pada persepsi risiko investasi di Indonesia. Kombinasi antara defisit fiskal, kebijakan yang dianggap kurang pro‑pasar, serta ketidakpastian geopolitik menciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi apresiasi rupiah.

Dampak pada sektor industri dan lapangan kerja

Pelemahan rupiah berdampak langsung pada biaya produksi perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor. Harga bahan bakar minyak (BBM) industri yang tidak bersubsidi naik, meningkatkan beban biaya operasional di sektor manufaktur, elektronik, otomotif, tekstil, dan alas kaki. Ibrahim Assuaibi memperkirakan potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) dapat mencapai 9.000 pekerja dalam tiga bulan ke depan jika tren depresiasi berlanjut.

Industri yang mengandalkan komponen elektronik impor, misalnya, akan merasakan kenaikan biaya produksi yang signifikan, memaksa perusahaan menyesuaikan harga jual atau mengurangi margin keuntungan. Sektor otomotif yang mengimpor suku cadang utama juga berada di ambang penyesuaian produksi, meningkatkan risiko penurunan output dan penyerapan tenaga kerja.

Proyeksi nilai tukar ke depan

Forecast dari Trading Economics memprediksi rupiah akan melanjutkan tren depresiasi mingguan kedelapan tahun ini. Skenario terburuk memperkirakan penutupan harian berada di kisaran Rp17.740‑Rp17.800, dengan kemungkinan penembusan level psikologis Rp17.900 jika tekanan eksternal tidak mereda. Namun, jika harga minyak global turun di bawah US$90 per barel dan negosiasi damai Iran‑AS mencapai kesepakatan final, rupiah berpotensi stabil atau bahkan menguat kembali dalam jangka pendek.

Secara keseluruhan, kombinasi tekanan eksternal dan internal menempatkan rupiah pada posisi rentan. Kebijakan fiskal yang lebih ketat, peningkatan cadangan devisa, serta langkah-langkah diplomatik yang berhasil menurunkan ketegangan di Timur Tengah menjadi faktor kunci untuk menghentikan tren melemahnya nilai tukar.

Dengan situasi yang masih belum pasti, pelaku pasar, investor, dan perusahaan diharapkan terus memantau indikator makroekonomi utama serta perkembangan geopolitik yang dapat memicu perubahan mendadak pada nilai tukar. Kewaspadaan dan strategi mitigasi risiko menjadi sangat penting untuk menghindari dampak negatif lebih lanjut pada ekonomi nasional.