Frankenstein45.Com – 05 Mei 2026 | Rupiah Indonesia mengalami pelemahan pada Selasa pagi, tercatat pada level Rp17.405 per dolar Amerika Serikat, menurun 11 poin atau sekitar 0,07 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Penurunan ini terjadi di tengah pasar valuta asing yang dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal, termasuk kebijakan moneter Amerika Serikat, pergerakan harga komoditas, serta aliran modal asing menuju aset yang dianggap lebih aman.
Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa pergerakan nilai tukar ini masih berada dalam kisaran volatilitas normal. Namun, BI tetap memantau situasi secara intensif untuk memastikan stabilitas pasar.
Berikut beberapa data nilai tukar Rupiah dalam tiga hari terakhir:
| Hari | Kurs (Rp/USD) |
|---|---|
| Senin | Rp17.394 |
| Selasa | Rp17.405 |
| Rabu | Rp17.398 |
Para analis pasar memperkirakan bahwa tekanan pada Rupiah dapat berlanjut jika kebijakan suku bunga Federal Reserve tetap tinggi atau jika terjadi gejolak geopolitik yang menambah permintaan safe‑haven pada dolar AS.
- Jika dolar menguat lebih lanjut, Rupiah diperkirakan akan berada di kisaran Rp17.400‑Rp17.450 per dolar.
- Jika ada intervensi pasar atau kebijakan moneter yang lebih longgar dari BI, nilai tukar dapat stabil atau sedikit menguat.
Secara historis, level Rp17.405 masih berada di atas level terendah yang pernah dicapai pada tahun 2020, namun mendekati batas atas yang dianggap mengancam daya beli masyarakat.
Pemerintah dan otoritas moneter terus berupaya menjaga kestabilan nilai tukar melalui kebijakan likuiditas, pengelolaan cadangan devisa, serta komunikasi yang transparan kepada pelaku pasar.




