Rupiah Sentuh Rp 17.500 per Dolar AS, Berikut Biang Kerok dan Proyeksinya Sepanjang Pekan Ini
Rupiah Sentuh Rp 17.500 per Dolar AS, Berikut Biang Kerok dan Proyeksinya Sepanjang Pekan Ini

Rupiah Sentuh Rp 17.500 per Dolar AS, Berikut Biang Kerok dan Proyeksinya Sepanjang Pekan Ini

Frankenstein45.Com – 13 Mei 2026 | Rupiah mengalami penurunan tajam dan pada akhir pekan lalu mencatat level Rp17.500 per dolar AS, level terendah dalam beberapa bulan terakhir. Penurunan ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar mengenai tekanan inflasi dan biaya impor.

Beberapa faktor global menjadi pemicu utama pelemahan nilai tukar.

  • Penguatan dolar AS yang dipicu oleh kebijakan moneter ketat Federal Reserve.
  • Ketidakpastian geopolitik yang meningkatkan safe‑haven demand pada dolar.
  • Penurunan harga komoditas ekspor utama Indonesia, terutama batu bara dan kelapa sawit, yang mengurangi aliran devisa.

Di sisi domestik, terdapat beberapa faktor yang memperparah tekanan pada Rupiah:

  • Defisit transaksi berjalan yang melebar akibat impor energi yang tinggi.
  • Inflasi konsumen yang masih berada di atas target Bank Indonesia, menekan daya beli.
  • Sentimen politik menjelang pemilu yang menimbulkan volatilitas pasar.

Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan pasar, antara lain:

  • Intervensi jual beli valuta asing di pasar spot.
  • Peningkatan suku bunga acuan pada kuartal sebelumnya untuk menahan aliran modal keluar.
  • Penyediaan likuiditas tambahan bagi perbankan melalui fasilitas khusus.

Berikut proyeksi nilai tukar Rupiah selama pekan ini berdasarkan analisis pasar dan pernyataan resmi BI:

Hari Perkiraan Kurs (Rp/USD)
Senin 17.450 – 17.550
Selasa 17.420 – 17.520
Rabu 17.400 – 17.500
Kamis 17.380 – 17.480
Jumat 17.350 – 17.450

Jika tekanan eksternal berlanjut, terutama penguatan dolar AS, Rupiah berpotensi kembali menembus level Rp17.600. Sebaliknya, jika BI berhasil menstabilkan pasar melalui intervensi yang konsisten dan data inflasi menunjukkan penurunan, nilai tukar dapat kembali mendekati batas kuat Rp17.300.

Investor dan pelaku usaha disarankan untuk memantau perkembangan kebijakan moneter global, data neraca perdagangan, serta pernyataan resmi Bank Indonesia guna mengantisipasi pergerakan nilai tukar selama beberapa hari ke depan.