Frankenstein45.Com – 14 April 2026 | Di Surabaya, tempat pengelolaan sampah (TPS) mulai bertransformasi menjadi ruang publik yang multifungsi, bukan lagi sekadar lokasi penampungan sampah.
Sejak awal 2024, pemerintah kota mengintegrasikan fasilitas edukasi, bank sampah, dan area kompos di sekitar TPS. Warga dapat menukar sampah yang sudah terpilah dengan voucher belanja atau barang kebutuhan sehari-hari, sementara sisa organik diolah menjadi kompos untuk pekarangan atau taman kota.
Beberapa perubahan utama yang sudah terlihat antara lain:
- Pemasangan papan informasi tentang cara memisahkan sampah organik dan anorganik.
- Pengadaan mesin pengomposan skala kecil yang dikelola oleh relawan lingkungan.
- Penyediaan ruang terbuka hijau di sekitar TPS untuk kegiatan komunitas, seperti kelas memasak, pelatihan kerajinan, atau pasar murah barang daur ulang.
- Program pelatihan bagi warga tentang pemilahan sampah dan pembuatan kompos, yang dilaksanakan secara rutin oleh dinas kebersihan dan LSM setempat.
Hasil awal menunjukkan penurunan volume sampah yang masuk ke TPS sebesar 18 % dibandingkan tahun sebelumnya, serta peningkatan partisipasi warga dalam pemilahan sampah dari 42 % menjadi 68 %.
Meski ada peningkatan, tantangan tetap ada. Beberapa TPS masih mengalami keterbatasan ruang, dan kebutuhan akan pendanaan untuk perawatan fasilitas edukasi masih tinggi. Pemerintah berjanji akan memperluas jaringan TPS menjadi “pusat layanan lingkungan” yang terintegrasi dengan program pengelolaan sampah kota secara keseluruhan.
Transformasi ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi kota lain di Indonesia, menegaskan bahwa TPS tidak lagi sekadar tempat penampungan, melainkan ruang partisipasi aktif warga dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.




