Frankenstein45.Com – 04 Mei 2026 | Jepang dan Australia memasuki fase baru dalam kerja sama bilateral setelah Perdana Menteri Jepang pertama, Sanae Takaichi, mendarat di Canberra pada malam 3 Mei 2026. Kunjungan tiga hari ini menjadi titik fokus bagi kedua negara yang tengah merespon perubahan cepat dalam lanskap keamanan dan ekonomi Asia‑Pasifik.
Agenda Pertahanan: Kapal Perang, Submarin, dan Latihan Gabungan
Menurut pernyataan resmi Kedutaan Besar Jepang, agenda utama Takaichi meliputi pembahasan pembelian kapal perang Jepang oleh Australia. Kesepakatan bernilai miliaran dolar ini diharapkan menjadi pijakan bagi ekspor pertahanan Jepang ke negara‑negara lain seperti Selandia Baru atau India. Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, menegaskan bahwa lingkungan keamanan regional kini “semakin parah” dan menekankan perlunya kerja sama multilapis, tidak hanya dalam bidang fregat tetapi juga sistem tak berawak, siber, dan ruang angkasa.
Koizumi juga menyiapkan delegasinya untuk mengamati latihan militer di Filipina, di mana pasukan Jepang akan berpartisipasi dalam latihan gabungan pertama sejak Perang Dunia II bersama Angkatan Laut Australia dan Amerika Serikat. Latihan tersebut melibatkan peluncuran misil untuk menenggelamkan kapal sasaran di Laut China Selatan, wilayah yang kerap menjadi sengketa antara Filipina dan China.
Di sisi Australia, seorang mantan pejabat senior pertahanan, Richard Gray, mengusulkan agar Australia mempertimbangkan opsi “plan B” berupa penyewaan kapal selam konvensional dari Jepang. Menurut Gray, armada selam diesel‑elektrik Jepang—terdiri dari 24 unit termasuk kelas Oyashio, Sōryū, dan Taigei—memiliki kapasitas produksi yang dapat dipercepat bila dibutuhkan. Ia menekankan bahwa diskusi mengenai opsi ini harus dimulai segera agar Australia tidak mengalami kesenjangan kemampuan selam selama transisi menuju kapal selam bertenaga nuklir AUKUS.
Keamanan Ekonomi dan Mineral Strategis
Selain pertahanan, Takaichi menekankan pentingnya keamanan ekonomi, khususnya dalam bidang energi dan mineral kritis. Australia merupakan pemasok utama energi, bijih besi, dan pangan bagi Jepang, sementara perusahaan Jepang kini menempati posisi investor terbesar kedua di Australia. Proyek infrastruktur energi, seperti hub LNG yang dikelola Inpex, menjadi contoh konkret kolaborasi ekonomi kedua negara.
Japan melihat Australia sebagai sumber penting mineral langka—seperti rare earths dan gallium—yang dapat mengurangi ketergantungan pada China. Beijing baru‑baru ini kembali membatasi ekspor rare earths ke perusahaan Jepang, memperkuat urgensi diversifikasi rantai pasokan. Menurut laporan Nikkei, kedua negara berencana mempercepat enam proyek kritis, termasuk pengembangan tambang nikel dan rare earths, yang akan ditandatangani dalam perjanjian keamanan ekonomi selama kunjungan Takaichi.
Politik Dalam Negeri dan Simbolisme
Kunjungan Takaichi bertepatan dengan peringatan 50 tahun Traktat Persahabatan dan Kerja Sama Dasar antara Jepang dan Australia. Momen ini menambah nilai simbolis pada hubungan yang semakin strategis di tengah kecemasan terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang dianggap lebih fokus pada kawasan lain serta kebangkitan China yang agresif.
Di sebuah pidato singkat, Takaichi menyebutkan kata “ketahanan” sebanyak enam kali, menegaskan bahwa “ketahanan ekonomi dan pertahanan merupakan fondasi utama bagi perdamaian dan stabilitas regional”. Meskipun tidak ada konferensi pers gabungan yang dijadwalkan, harapan kedua belah pihak adalah mengeluarkan deklarasi bersama yang menegaskan komitmen pada keamanan ekonomi, energi, dan pertahanan.
Secara politik dalam negeri, Takaichi, yang memenangkan pemilihan dengan kemenangan telak pada Februari 2026, dipandang sebagai sosok yang lebih hawkish terhadap China. Kebijakannya mencerminkan dorongan untuk memperkuat aliansi tradisional dan memperluas jaringan mitra strategis di Indo‑Pasifik.
Secara keseluruhan, kunjungan perdana ini menandai langkah signifikan dalam memperdalam kerja sama Jepang‑Australia. Dari kesepakatan pembelian kapal perang hingga rencana penyewaan selam konvensional, serta upaya bersama mengamankan pasokan mineral kritis, semua mencerminkan strategi dua sisi yang berusaha menyeimbangkan tantangan keamanan dan ekonomi di wilayah yang semakin tidak pasti.




