Frankenstein45.Com – 25 Mei 2026 | Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) Provinsi Lampung mengungkap bahwa sebanyak 376 dapur Satuan Pelayanan Pengadaan Gizi (SPPG) di wilayah tersebut mengalami kendala utama berupa tidak tersedianya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang memadai. Tanpa IPAL yang berfungsi dengan baik, dapur SPPG tidak dapat memenuhi persyaratan Standar Layanan Hidup Sehat (SLHS) yang ditetapkan pemerintah.
Kendala ini berdampak langsung pada kemampuan dapur dalam mengolah limbah cair dan padat, sehingga menimbulkan risiko kontaminasi dan menurunkan kualitas layanan gizi bagi anak-anak. Berikut ini beberapa faktor utama yang menjadi penyebab terhambatnya implementasi IPAL:
- Keterbatasan dana daerah untuk pembangunan dan pemeliharaan IPAL.
- Kurangnya tenaga teknis yang terlatih dalam operasional dan perawatan IPAL.
- Lokasi dapur yang tersebar di area terpencil sehingga infrastruktur pendukung sulit dijangkau.
- Proses perizinan yang memakan waktu lama.
Satgas MBG Lampung menilai bahwa penyelesaian masalah ini memerlukan pendekatan terpadu antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, serta pihak swasta yang dapat memberikan dukungan teknis dan finansial. Beberapa langkah strategis yang diusulkan antara lain:
- Pengalokasian anggaran khusus bagi pembangunan IPAL di setiap dapur SPPG.
- Penyelenggaraan pelatihan intensif bagi petugas dapur tentang pengelolaan limbah dan operasional IPAL.
- Kolaborasi dengan perusahaan pengelolaan lingkungan untuk menyediakan solusi teknologi yang lebih efisien.
- Penguatan regulasi dan percepatan proses perizinan terkait instalasi IPAL.
Dalam upaya mempercepat pencapaian SLHS, Satgas MBG juga berkomitmen melakukan monitoring rutin terhadap progres pembangunan IPAL serta melakukan evaluasi berkala untuk memastikan setiap dapur memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan.
Dengan mengatasi hambatan IPAL, diharapkan 376 dapur SPPG di Lampung dapat segera mendapatkan sertifikasi SLHS, sehingga layanan gizi gratis yang diberikan dapat terus berlanjut secara berkelanjutan dan aman bagi anak-anak di seluruh provinsi.




