Frankenstein45.Com – 22 Juni 2026 | Menjelang peringatan seratus tahun berdirinya Jam Gadang, Kota Bukittinggi kembali menjadi sorotan nasional. Menteri Kebudayaan Fadli Zon memanfaatkan momentum ini untuk menegaskan kembali peran simbol tersebut sebagai ikon kebanggaan daerah dan negara.
Jam Gadang, menara jam bersejarah yang berdiri sejak masa kolonial Belanda, tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk waktu, melainkan juga sebagai saksi bisu perkembangan sosial-ekonomi dan kebudayaan Sumatera Barat. Selama satu abad, menara ini telah mengalami beberapa kali restorasi, namun tetap mempertahankan arsitektur tradisional Minangkabau yang khas.
Dalam rangka memperingati hari bersejarah ini, serangkaian kegiatan telah disusun, antara lain:
- Upacara resmi yang dihadiri oleh pejabat pemerintah pusat dan daerah.
- Festival budaya menampilkan tari tradisional, musik saluang, serta pameran kerajinan tangan khas Bukittinggi.
- Diskusi panel yang membahas strategi pelestarian warisan budaya dan pemanfaatannya untuk meningkatkan pariwisata.
- Pertunjukan cahaya dan laser yang menyoroti siluet Jam Gadang pada malam hari.
Fadli Zon menegaskan, “Jam Gadang adalah simbol persatuan dan identitas kita. Memperingati seratus tahun keberadaannya harus menjadi ajakan bagi generasi muda untuk melestarikan nilai-nilai kebudayaan serta mempromosikannya ke panggung internasional.”
Selain menyoroti nilai historis, peringatan ini juga dijadikan platform untuk meluncurkan program “Buktitinggi 2030”, sebuah inisiatif jangka panjang yang menargetkan peningkatan kunjungan wisatawan hingga 30 % dalam sepuluh tahun ke depan melalui digitalisasi promosi, peningkatan fasilitas, dan pengembangan destinasi pendukung.
Para pakar sejarah mengingatkan bahwa perayaan seratus tahun bukan sekadar peringatan formal, melainkan peluang untuk mengkaji kembali peran jam ini dalam dinamika sosial‑kultural. Dengan dukungan pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta, diharapkan Jam Gadang tetap menjadi mercusuar kebanggaan dan inspirasi bagi generasi mendatang.




