Frankenstein45.Com – 04 Juni 2026 | Survei terbaru mengungkap bahwa sekitar 95 persen mahasiswa di Indonesia telah mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke dalam proses belajar mereka. Penggunaan AI meliputi bantuan penulisan tugas, pemecahan soal, serta pencarian referensi secara cepat.
Data ini diambil dari penelitian yang melibatkan ribuan responden di berbagai perguruan tinggi. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, di mana hanya sekitar 60 persen yang melaporkan penggunaan AI secara rutin.
| Aspek | Persentase |
|---|---|
| Mahasiswa yang menggunakan AI | 95% |
| Orang tua yang khawatir | 78% |
Meski manfaatnya tampak jelas, kekhawatiran orang tua terus meningkat. Sebagian besar mengkhawatirkan dampak jangka panjang pada kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Mereka berpendapat bahwa ketergantungan pada AI dapat mengurangi latihan analisis, sintesis, dan evaluasi yang biasanya diperoleh melalui proses belajar konvensional.
Selain itu, orang tua juga menyoroti isu kesiapan kerja. Dengan otomasi yang semakin meluas, kemampuan teknis saja tidak cukup; keterampilan lunak seperti komunikasi, pemecahan masalah, dan kreativitas menjadi kunci. Jika AI hanya dijadikan alat bantu tanpa pengembangan kemampuan dasar, lulusan mungkin akan kesulitan bersaing di pasar kerja yang menuntut kompetensi multidimensi.
Pihak universitas menanggapi dengan menambahkan modul literasi digital dalam kurikulum, serta workshop yang mengajarkan etika penggunaan AI. Upaya ini bertujuan menyeimbangkan antara pemanfaatan teknologi dan penguatan kompetensi kritis.
Ke depannya, dialog antara mahasiswa, orang tua, dan institusi pendidikan diprediksi akan menjadi faktor penentu dalam memaksimalkan potensi AI sekaligus meminimalisir risiko yang mungkin timbul.







