Frankenstein45.Com – 15 Mei 2026 | Vancouver, 15 Mei 2026 – Dalam sebuah langkah yang menandai era baru bagi franchise NHL asal Kanada, Vancouver Canucks secara resmi mengumumkan bahwa legenda tim, saudara kembar Henrik dan Daniel Sedin, akan menjabat sebagai co-presiden organisasi. Sementara itu, asisten manajer umum Ryan Johnson naik jabatan menjadi general manager (GM) utama, menggantikan posisi yang sebelumnya dipegang oleh Jim Rutherford.
Kedua Sedin, yang kini berusia 45 tahun, adalah pemain Hall of Fame pertama yang pernah masuk dalam ballot Hall of Fame pada putaran pertama, dan masih memegang rekor terbanyak dalam sejarah Canucks: Henrik menempati posisi pemimpin assist terbanyak, sedangkan Daniel menjadi pencetak gol terbanyak. Selama karier mereka, kedua bersaudara menempati peringkat No.1 dan No.2 dalam catatan franchise untuk jumlah pertandingan yang dimainkan dan poin yang dikumpulkan.
Latar Belakang Keterlibatan Sedin di Canucks
Sejak pensiun pada tahun 2018, Henrik dan Daniel tidak meninggalkan Vancouver. Mereka mulai bekerja sebagai pelatih pengembangan pada musim 2021, di bawah masa jabatan manajer umum Jim Rutherford dan direktur operasi pemain Patrik Allvin. Peran mereka meliputi mentor bagi pemain muda, penilai bakat, serta penghubung antara staf teknik dan front office.
Keputusan untuk mengangkat mereka menjadi co-presiden menegaskan komitmen organisasi untuk menanamkan budaya tim yang telah terbukti berhasil selama dua dekade terakhir. Sebagai co-presiden, keduanya akan memimpin operasi hoki, termasuk strategi perekrutan, pengembangan pemain, serta hubungan dengan komunitas lokal.
Ryan Johnson: Dari Pemain hingga General Manager
Ryan Johnson, yang berusia 49 tahun, memiliki perjalanan karier yang panjang dan berwarna di dalam organisasi Canucks. Mulanya bergabung sebagai pemain pada era Mike Gillis pada tahun 2013, Johnson kemudian beralih ke peran pengembangan pemain, menjabat sebagai development coach, assistant director of player development, hingga director of player development. Pada 2021, ia memimpin tim AHL Canucks yang berlokasi di Abbotsford, mengarahkan tim tersebut meraih gelar Calder Cup pada 2025 – gelar profesional pertama dalam sejarah organisasi.
Pengalaman Johnson mencakup kerja sama dengan empat manajer umum berbeda: Mike Gillis, Trevor Linden, Jim Benning, dan Jim Rutherford, serta kini Patrik Allvin. Keberhasilannya dalam mengelola tim AHL, serta kemampuan bertahan dalam pergantian kepemimpinan, menjadi faktor utama yang membuatnya dipilih sebagai pengganti Allvin sebagai GM utama.
Pilihan yang Kontroversial?
Saat proses pencarian pengganti Allvin berlangsung, dua kandidat utama muncul: Ryan Johnson dan Evan Gold, asisten GM Boston Bruins. Sebagian penggemar Canucks mengusulkan Gold sebagai pilihan eksternal, mengingat prestasinya di liga lain. Namun, manajemen menekankan bahwa pengetahuan Johnson tentang struktur internal Canucks, serta rekam jejaknya dalam mengembangkan talenta lokal, memberikan keunggulan kompetitif yang tak ternilai.
Keputusan ini juga mencerminkan strategi Canucks untuk memperkuat identitas tim melalui pemimpin yang telah berakar kuat di dalam organisasi, alih-alih mencari sosok luar yang belum familiar dengan budaya tim.
Harapan dan Tantangan Kedepan
Dengan Sedin bersaudara mengemban peran co-presiden dan Johnson memimpin sebagai GM, ekspektasi tinggi mengalir dari para penggemar dan analis. Fokus utama akan diarahkan pada pembentukan skuad yang kompetitif, pengembangan pemain muda, serta pencapaian konsistensi performa di papan klasemen.
Selain itu, kehadiran kedua Sedin di level eksekutif diharapkan dapat meningkatkan daya tarik komersial tim, memperkuat hubungan dengan sponsor, serta memperluas program komunitas yang sudah menjadi ciri khas Canucks.
Secara keseluruhan, restrukturisasi ini menandai babak baru bagi Vancouver Canucks, menggabungkan warisan masa lalu dengan visi modern. Jika berhasil, kombinasi pengalaman lama dan inovasi baru dapat mengantar tim kembali ke puncak persaingan NHL.




