Sekjen IMO: Risiko Ranjau di Selat Hormuz Tidak Dapat Diabaikan
Sekjen IMO: Risiko Ranjau di Selat Hormuz Tidak Dapat Diabaikan

Sekjen IMO: Risiko Ranjau di Selat Hormuz Tidak Dapat Diabaikan

Frankenstein45.Com – 17 April 2026 | Arsenio Dominguez, Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO), menegaskan bahwa ancaman ranjau laut di Selat Hormuz tidak dapat diabaikan meski situasi geopolitik di kawasan tersebut terus berubah. Ia menambahkan bahwa wilayah sempit ini tetap menjadi jalur strategis utama bagi transportasi minyak dan barang-barang penting, sehingga keamanan pelayaran menjadi prioritas utama bagi komunitas maritim dunia.

Dominguez mengingatkan bahwa meskipun upaya diplomatik sedang berlangsung, potensi penempatan ranjau di perairan internasional dapat meningkatkan risiko kecelakaan kapal, pencemaran lingkungan, dan gangguan pasokan energi global. “Kami terus memantau situasi dan bekerja sama dengan negara-negara anggota serta organisasi regional untuk memastikan bahwa standar keselamatan tetap ditegakkan,” ujarnya dalam sebuah konferensi pers.

Berikut beberapa langkah yang sedang dipertimbangkan oleh IMO untuk mengurangi risiko ranjau di Selat Hormuz:

  • Penguatan inspeksi kapal melalui program inspeksi bersama antara negara‑negara pesisir dan organisasi internasional.
  • Peningkatan penggunaan teknologi deteksi bawah air, termasuk sonar dan drone laut, untuk mengidentifikasi bahan peledak secara dini.
  • Penyusunan prosedur evakuasi dan penanggulangan darurat yang lebih terkoordinasi antar pelabuhan utama di sepanjang selat.
  • Pengembangan pedoman khusus bagi kapal tanker dan kargo yang melintas melalui zona berisiko tinggi.

Selain itu, IMO mengajak semua pihak untuk mematuhi Konvensi Internasional tentang Penanggulangan Ranjau Laut (Convention on the Prevention of Underwater Mines) yang telah disepakati pada tahun 2005. Implementasi konvensi tersebut mencakup pelaporan transparan mengenai setiap aktivitas militer di perairan internasional serta pertukaran data intelijen tentang potensi ancaman.

Kondisi ekonomi global turut menjadi faktor penting. Selat Hormuz menyumbang sekitar satu pertiga volume perdagangan minyak dunia, sehingga gangguan di wilayah ini dapat memicu fluktuasi harga energi yang signifikan. Oleh karena itu, keamanan maritim tidak hanya menjadi masalah teknis, melainkan juga isu ekonomi yang mempengaruhi negara‑negara konsumen dan produsen energi.

Dominguez menutup pernyataannya dengan harapan bahwa dialog konstruktif antara semua pemangku kepentingan, termasuk negara‑negara di kawasan Teluk Persia, dapat mencegah eskalasi yang berpotensi menimbulkan tragedi kemanusiaan dan kerusakan lingkungan yang luas.