Frankenstein45.Com – 12 April 2026 | Jumat, 10 April 2026, menandai eskalasi baru dalam konflik berkepanjangan antara Israel dan milisi Hizbullah yang didukung Iran. Sekitar tiga puluh roket diluncurkan dari wilayah Lebanon ke wilayah Israel, menargetkan beberapa lokasi strategis di sepanjang pesisir Mediterania. Serangan ini menimbulkan kerusakan berat pada dua belas titik infrastruktur penting dan melukai empat warga sipil.
Latar Belakang Serangan
Serangan rudal terjadi dua hari setelah Israel melakukan serangan udara masif di Beirut, yang menewaskan lebih dari 300 orang. Sebagai balasan, Hizbullah mengumumkan bahwa mereka menargetkan pangkalan angkatan laut Israel di pelabuhan Ashdod serta instalasi militer di Haifa. Dalam pernyataan yang dikutip AFP, para pejuang Hizbullah menegaskan bahwa tindakan mereka merupakan respons terhadap pelanggaran gencatan senjata oleh Israel.
Roket-roket tersebut, yang diperkirakan diproduksi dengan dukungan teknis Iran, mengandalkan sistem peluncuran bergerak yang sulit dideteksi. Meskipun sistem pertahanan udara Israel, termasuk Iron Dome, berhasil men intercept sebagian roket, sejumlah proyektil tetap berhasil menabrak target di daratan.
Kerusakan dan Korban
Setelah serangan, otoritas lokal melaporkan kerusakan signifikan pada dua belas titik kritis, antara lain:
- Pangkalan Angkatan Laut Ashdod – fasilitas dermaga dan gudang logistik mengalami kerusakan struktural.
- Stasiun Pengisian Bahan Bakar Haifa – beberapa tangki bahan bakar pecah, menimbulkan kebocoran.
- Jalan Tol 4 – terputus sebagian karena ledakan roket.
- Instansi Pemerintahan di Tel Aviv – beberapa kantor mengalami kerusakan pada atap.
- Pabrik Pengolahan Air di Bat Yam – mengakibatkan gangguan pasokan air bagi sekitar 50.000 penduduk.
- Gedung Apartemen di Netanya – kerusakan dinding dan jendela, dua warga terluka.
- Jembatan Gihon – sebagian struktur mengelupas, menimbulkan risiko keselamatan.
- Stasiun Kereta Api Ashdod – gangguan layanan kereta selama tiga jam.
- Terminal Pelabuhan Ashdod – area kargo terhambat akibat puing-puing.
- Fasilitas Komunikasi di Ramat Gan – menara transmisi sebagian hancur.
- Gudang Senjata Militer di Nahariya – kerusakan pada penyimpanan amunisi.
- Pusat Medis Darurat di Ashkelon – kerusakan pada ruang operasi, menghambat layanan darurat.
Empat warga sipil dilaporkan mengalami luka ringan akibat pecahan kaca dan puing-puing. Semua korban berhasil dipindahkan ke rumah sakit terdekat dan dirawat dengan observasi.
Reaksi Internasional
Serangan ini menambah ketegangan di tengah upaya gencatan senjata dua minggu yang tengah dinegosiasikan antara Amerika Serikat, Iran, dan sekutu regional. Amerika Serikat menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam cakupan gencatan senjata, sementara Iran dan Pakistan berpendapat sebaliknya. Menteri Luar Negeri Israel, Eli Cohen, menegaskan bahwa Israel akan terus menanggapi setiap ancaman dengan “kekuatan, presisi, dan determinasi”.
PBB mengeluarkan pernyataan yang menyerukan penahanan diri dari semua pihak, mengingat potensi dampak kemanusiaan yang semakin memburuk. Sebaliknya, pemerintah Lebanon mengumumkan hari berkabung nasional sebagai respons terhadap ribuan korban tewas dalam serangan udara Israel pada Rabu sebelumnya.
Langkah Selanjutnya
Militer Israel melaporkan bahwa mereka telah menargetkan sepuluh peluncur roket milik Hizbullah yang diperkirakan menjadi basis operasi di selatan Lebanon. Serangan balasan diharapkan akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan, meski kedua belah pihak mengklaim kesiapan untuk menahan eskalasi lebih lanjut.
Sementara itu, warga sipil di zona konflik mengungkapkan keprihatinan atas keamanan mereka. Organisasi kemanusiaan menekankan pentingnya akses bantuan medis dan perlindungan bagi penduduk yang terdampak.
Dengan dua puluh empat jam pertama sejak serangan, dampak material dan manusia masih terus dihitung. Pemerintah Israel berjanji akan memperkuat sistem pertahanan udara dan meningkatkan koordinasi intelijen guna mencegah serangan serupa di masa mendatang.
Situasi di perbatasan Lebanon‑Israel tetap sangat tegang, dan dunia internasional terus memantau perkembangan dengan cermat, berharap negosiasi gencatan senjata dapat mengurangi risiko konflik meluas.




