Frankenstein45.Com – 16 Juni 2026 | Warga di wilayah Jawa dan Bali belakangan ini sering mengalami pemadaman listrik yang tiba‑tiba, terutama pada jam‑jam sore hingga malam. Pengamat energi Institut Teknologi Bandung (ITB) menjelaskan bahwa fenomena ini bukan kebetulan, melainkan hasil kombinasi tiga faktor utama yang saling memperparah.
Berikut penjelasan singkat mengenai masing‑masing penyebabnya:
- Force outage (pemadaman paksa): Sistem kelistrikan melakukan pemutusan aliran listrik secara terkontrol ketika beban listrik melebihi kapasitas jaringan. Hal ini dilakukan untuk mencegah kerusakan lebih luas pada pembangkit dan jaringan transmisi.
- Derating (penurunan daya): Beberapa pembangkit, terutama yang mengandalkan air atau uap, menurunkan output daya karena kondisi operasional yang tidak optimal. Penurunan ini mengurangi total pasokan listrik yang tersedia.
- El Nino ekstrem: Fenomena iklim El Nino menurunkan curah hujan dan mengurangi level air di waduk serta sungai, yang pada gilirannya mengurangi kemampuan pembangkit listrik tenaga air. Kekurangan air ini memperparah derating dan meningkatkan risiko force outage.
Ketiga faktor tersebut saling terkait. Ketika El Nino mengurangi pasokan air, pembangkit tenaga air harus menurunkan outputnya (derating). Kekurangan pasokan tersebut memaksa operator jaringan untuk melakukan force outage guna menyeimbangkan beban. Akibatnya, konsumen di daerah‑daerah padat penduduk seperti Jawa‑Bali merasakan pemadaman berulang, terutama pada puncak konsumsi.
Pengamat ITB menekankan pentingnya diversifikasi sumber energi dan peningkatan kapasitas penyimpanan listrik sebagai solusi jangka panjang. Sementara itu, langkah-langkah mitigasi jangka pendek meliputi perbaikan manajemen beban, peningkatan efisiensi pembangkit, dan koordinasi yang lebih baik antara regulator dan operator jaringan.




