Frankenstein45.Com – 27 Mei 2026 | Jakarta – Dewan Penuntut DPR sedang mempersiapkan sidang impeachment Wakil Presiden Sara Duterte dengan mengadakan simulasi persidangan di Pusat Rakyat DPR. Simulasi ini dihadiri seluruh sebelas anggota panel penuntut, termasuk Rep. Manila 3rd District Joel Chua dan Rep. Dinagat Islands Kaka Bag-ao, serta sejumlah jaksa privat yang diundang untuk memberikan masukan.
Persiapan Mock Trial
Menurut Chua, simulasi tersebut bertujuan “untuk merasakan bagaimana proses impeachment yang berbeda dari pengadilan biasa”. Panel meneliti aturan bukti, tata cara berbicara di depan hakim‑senator, dan cara menjelaskan istilah‑istilah hukum kepada publik yang belum familiar dengan proses impeachment. Bag-ao menambahkan bahwa pengalaman mereka dalam kasus Corona pada 2012 menjadi acuan penting untuk menyusun strategi persidangan.
Tantangan Proses Impeachment
Panel menyoroti beberapa tantangan utama. Pertama, kebutuhan menjelaskan istilah “impeachment”, “charge”, “judgment”, “subpoena”, dan cara membaca dokumen kepada masyarakat luas. Kedua, perdebatan mengenai penggunaan telekonferensi. Chua dan Bag-ao menolak penggunaan teknologi tersebut, berargumen kehadiran fisik diperlukan untuk mengamati bahasa tubuh saksi dan menilai kejujuran mereka.
Renee Co, juru bicara panel, menegaskan, “Anda perlu berada secara fisik untuk menangkap bahasa non‑verbal, gestur, dan nuansa yang melengkapi jawaban lisan.” Ia menambahkan bahwa keputusan akhir mengenai format sidang menjadi urusan internal Senat.
Kontroversi Telekonferensi dan Politik Senat
Senator Ronald “Bato” Dela Rosa, yang sedang menjadi buronan ICC, menjadi contoh mengapa kehadiran fisik dianggap krusial. Chua berargumen bahwa tanpa kehadiran langsung, hakim‑senator tidak dapat menilai sikap saksi secara menyeluruh. Di sisi lain, sebagian mayoritas Senat mengusulkan telekonferensi untuk mengatasi kendala logistik, namun panel menilai hal itu berisiko menurunkan kualitas penilaian.
Konteks Politik Lebih Luas
Impeachment Sara Duterte muncul bersamaan dengan spekulasi politik lainnya, termasuk pernyataan Komisi Pemilihan Umum (Comelec) bahwa Pemilihan 2028 akan tetap dilaksanakan meski ada desas‑desus “no‑el”. Gubernur dan politisi lain, termasuk Senator Imee Marcos, pernah menyuarakan kemungkinan penundaan pemilu, namun Comelec menegaskan konstitusi mengikat untuk menggelar pemilihan pada tahun tersebut.
Isu-isu ini menambah ketegangan di antara lembaga‑lembaga negara. Beberapa anggota DPR menolak tuduhan bahwa ada “pakta” untuk menunda pemilihan atau memperpanjang masa jabatan pejabat hingga 2031. Rep. Janette Garin menegaskan tidak ada pembicaraan semacam itu dalam rapat komite impeachment.
Langkah Selanjutnya
Setelah simulasi, panel akan menyusun laporan rekomendasi yang akan dibawa ke Senat untuk sidang impeachment sesungguhnya. Mereka berencana mengadakan sesi pelatihan tambahan bagi jaksa‑jaksa privat dan menyiapkan dokumen bukti secara terperinci. Sementara itu, Senat diperkirakan akan menimbang kembali aturan telekonferensi dalam minggu-minggu mendatang.
Semua mata kini tertuju pada proses impeachment yang diperkirakan akan menjadi ujian konstitusional pertama sejak era reformasi. Keberhasilan atau kegagalan prosedur ini dapat memengaruhi kepercayaan publik terhadap institusi legislatif dan eksekutif, serta menyiapkan panggung politik menjelang pemilihan 2028.
Dengan persiapan yang matang, panel berharap sidang impeachment dapat berlangsung adil, transparan, dan dapat dipahami oleh rakyat, sehingga proses demokrasi tetap terjaga meski berada di tengah gejolak politik yang intens.




