Frankenstein45.Com – 04 April 2026 | Pertandingan persahabatan antara tim nasional Spanyol dan Mesir yang digelar pada 1 April 2026 di Stadion RCDE, Barcelona, berubah menjadi sorotan internasional setelah terdengar nyanyian bernada Islamofobia di tribun penonton. Insiden tersebut memicu penyelidikan kepolisian Katalunya dan memunculkan beragam reaksi dari pemain, pelatih, serta pejabat olahraga.
Insiden nyanyian Islamofobia
Selama jeda pertandingan, sebagian suporter Spanyol menyanyikan lagu “Siapa yang tidak melompat adalah Muslim”, yang menyinggung waktu salat umat Islam. Meskipun tidak ditujukan secara pribadi kepada pemain tertentu, nyanyian itu dianggap menghina agama dan memicu kemarahan di kalangan pemain muda Muslim, termasuk Lamine Yamal (Barcelona) yang sedang menjalani debut internasional.
Reaksi pemain dan pelatih
Omar El Hilali, bek asal Maroko yang bermain untuk Espanyol, mengungkapkan kekecewaannya dalam sebuah wawancara dengan surat Sport. Ia menilai aksi tersebut sebagai “ketidakhormatan terhadap semua agama” dan menekankan bahwa pelaku hanyalah minoritas yang harus dipertanggungjawabkan. “Saya tidak tahu berapa banyak orang yang terlibat, tapi yang pasti mereka adalah minoritas. Kami harus menegakkan rasa hormat,” ujarnya.
Lamine Yamal, pemain sayap berusia 18 tahun yang beragama Islam, menggunakan akun Instagram pribadinya untuk mengutuk aksi tersebut. Ia menulis, “Saya Muslim, Alhamdulillah. Nyanyian ‘siapa yang tidak melompat adalah Muslim’ tidak dapat ditoleransi. Sepak bola harus dinikmati tanpa menghina siapa pun karena agama atau identitas mereka.” Yamal menambahkan bahwa meski nyanyian itu tidak diarahkan kepadanya secara pribadi, ia tetap merasa tersudut karena identitas keagamaannya.
Pelatih Barcelona asal Jerman, Hansi Flick, memberikan dukungan penuh kepada Yamal. Dalam konferensi pers, Flick menegaskan, “Tidak ada tempat untuk rasisme, baik di sepak bola maupun dalam kehidupan. Kita semua harus bersatu dan saling menghormati, terlepas dari warna kulit, agama, atau asal‑usul.” Ia menyerukan refleksi budaya di stadion‑stadion Spanyol untuk mencegah kejadian serupa.
Alvaro Arbeloa, pelatih Real Madrid, juga menegaskan bahwa Spanyol bukan negara rasis. “Jika Spanyol memang rasis, kami akan menghadapi masalah setiap akhir pekan. Kita harus melawan perilaku tertentu, tetapi tidak boleh menggeneralisasi tindakan segelintir orang ke seluruh bangsa,” kata Arbeloa.
Tindakan kepolisian dan respons pemerintah
Pihak kepolisian Catalunya membuka penyelidikan resmi atas dugaan pelanggaran Islamofobia. Menteri Olahraga Katalonia, Berni Alvarez, menggambarkan insiden tersebut sebagai “langkah mundur yang besar bagi dunia olahraga” dan menuntut tindakan tegas dari otoritas sepak bola nasional maupun UEFA.
FIFA juga mengawasi rangkaian insiden rasisme yang terjadi di stadion‑stadion Spanyol, mengingat Spanyol akan menjadi tuan rumah bersama Portugal dan Maroko untuk Piala Dunia 2030. Pemerintah Spanyol berjanji meningkatkan kampanye edukasi anti‑rasisme menjelang turnamen besar tersebut.
Di luar lapangan, insiden ini memicu perdebatan luas di media sosial. Banyak netizen mengecam pelaku sebagai “bodoh” dan “rasis”, sementara sebagian lainnya menekankan pentingnya menegakkan kebebasan berekspresi tanpa menyinggung kelompok keagamaan.
Mesir, yang menjadi tim tamu pada laga tersebut, menyatakan keprihatinannya dan menegaskan bahwa sportivitas harus menjadi nilai utama dalam kompetisi internasional. Federasi Sepak Bola Mesir menyampaikan surat resmi kepada Asosiasi Sepak Bola Spanyol, meminta klarifikasi dan tindakan lanjutan.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa sepak bola, sebagai olahraga paling populer di dunia, tetap rentan terhadap dinamika sosial dan politik. Upaya kolektif dari pemain, pelatih, federasi, dan penegak hukum diperlukan untuk memastikan stadion menjadi arena yang inklusif dan bebas dari diskriminasi.







