Strategi SBTi Dorong Transformasi Hijau: Dari Elopak hingga RWE, ReNew, dan Inisiatif Transportasi Baru
Strategi SBTi Dorong Transformasi Hijau: Dari Elopak hingga RWE, ReNew, dan Inisiatif Transportasi Baru

Strategi SBTi Dorong Transformasi Hijau: Dari Elopak hingga RWE, ReNew, dan Inisiatif Transportasi Baru

Frankenstein45.Com – 01 Mei 2026 | Inisiatif Science Based Targets (SBTi) semakin menjadi tolok ukur utama bagi perusahaan yang ingin menurunkan jejak karbon secara terukur. Berbagai pelaku industri—mulai dari produsen kemasan, penyedia energi, hingga operator transportasi—sudah mengadopsi target berbasis ilmiah untuk mempercepat transisi ke ekonomi rendah karbon. Artikel ini menelusuri langkah-langkah konkret yang diambil oleh beberapa perusahaan global dan menyoroti implikasinya bagi pasar Indonesia.

Elopak Capai Penurunan Emisi Langsung 39% Berkat Akselerasi Strategi SBTi

Produsen kemasan asal Norwegia, Elopak, melaporkan penurunan emisi langsung sebesar 39 persen dalam dua tahun terakhir. Pencapaian tersebut terjadi setelah perusahaan mempercepat implementasi rencana aksi yang selaras dengan SBTi, termasuk peningkatan efisiensi energi di pabrik, penggunaan bahan baku daur ulang, dan investasi pada teknologi pembangkit listrik hijau. Menurut laporan internal, strategi ini tidak hanya mengurangi biaya operasional, tetapi juga memperkuat posisi Elopak di pasar yang semakin menuntut keberlanjutan.

RWE Tandatangani PPA Jangka Panjang untuk Energi Angin Lepas Pantai dan Darat

RWE, salah satu pemain energi terbarukan terbesar di Eropa, menandatangani Power Purchase Agreement (PPA) jangka panjang dengan Breedon Group untuk membeli listrik dari proyek angin lepas pantai Gwynt y Môr dan ladang angin darat Brechfa Forest West di Wales. Kesepakatan ini mendukung komitmen RWE untuk memenuhi target SBTi yang menuntut 100% energi bersih pada 2030. PPA tersebut juga memberi sinyal kuat kepada investor bahwa pasar energi terbarukan memiliki prospek jangka panjang yang stabil.

ReNew India: Membangun Rantai Pasokan Energi Terbarukan dari Nol

Di India, ReNew Power mencontohkan bagaimana strategi SBTi dapat memacu inovasi dalam rantai pasokan. Didirikan pada 2011 oleh Vaishali Nigam Sinha dan Sumant Sinha, perusahaan kini menjadi pemain kedua terbesar dalam sektor energi terbarukan di negara tersebut. Fokus awal pada pengadaan turbin, panel surya, dan komponen balance‑of‑system (BOS) menuntut pendekatan berbasis risiko yang diadopsi dari latar belakang keuangan pendirinya. Dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip SBTi, ReNew berhasil menstandardisasi proses vendor, mempercepat skala proyek, dan menarik dana investasi berkelanjutan yang signifikan.

Transportasi Umum di Kanada: Bus Baru Menuju Orillia Mengusung Emisi Rendah

Sementara contoh di atas berpusat pada industri produksi dan energi, sektor transportasi juga ikut beradaptasi. Pada bulan Juni mendatang, layanan bus baru akan menghubungkan Toronto dengan Orillia, memperkenalkan armada berbasis listrik yang dirancang untuk menurunkan emisi CO₂ per penumpang. Proyek ini selaras dengan agenda SBTi yang menekankan dekarbonisasi transportasi publik sebagai langkah penting dalam mengurangi total emisi nasional.

Implikasi bagi Indonesia: Peluang dan Tantangan

Keberhasilan perusahaan-perusahaan di atas memberikan pelajaran penting bagi pelaku bisnis Indonesia. Pertama, penetapan target berbasis ilmiah memaksa perusahaan untuk meninjau ulang proses operasional, mengidentifikasi titik-titik pemborosan energi, dan berinvestasi pada teknologi bersih. Kedua, kolaborasi dengan lembaga keuangan yang memahami risiko iklim membuka akses ke modal hijau dengan syarat yang lebih menguntungkan.

Namun, tantangan tetap ada. Regulasi nasional masih dalam tahap penyusunan, infrastruktur energi terbarukan belum merata, dan kesadaran konsumen terhadap produk berkelanjutan masih terbatas. Untuk mengatasi hambatan ini, pemerintah dapat memperkuat kebijakan insentif, mempercepat izin pembangunan proyek energi terbarukan, serta mendukung standar pelaporan emisi yang konsisten dengan SBTi.

Secara keseluruhan, adopsi SBTi tidak lagi menjadi pilihan opsional, melainkan kebutuhan strategis bagi perusahaan yang ingin tetap kompetitif dalam ekonomi hijau yang berkembang. Dengan mencontoh praktik terbaik seperti yang dilakukan Elopak, RWE, ReNew, dan inisiatif transportasi publik baru, Indonesia memiliki peluang untuk mempercepat transformasi energi, meningkatkan daya saing industri, dan memenuhi komitmen iklim global.