Frankenstein45.Com – 17 Juni 2026 | Pernyataan mantan anggota Partai Kuomintang (KMT) Zhang Ronggong yang menegaskan bahwa orang Taiwan juga merupakan orang Tionghoa kembali memantik kembali perdebatan lama tentang identitas nasional Taiwan.
Sejak berakhirnya era kediktatoran, identitas Taiwan mengalami pergeseran signifikan. Partai Progresif Demokratik (DPP) secara konsisten menekankan identitas terpisah sebagai “Taiwanese”, sementara KMT cenderung mengusung gagasan “satu China” yang menekankan keterkaitan historis dan budaya dengan daratan China.
Pernyataan Zhang memicu beragam reaksi di kalangan publik. Survei terbaru menunjukkan bahwa mayoritas generasi muda—lebih dari 60%—lebih memilih mengidentifikasi diri hanya sebagai “Taiwanese” dan menolak label “Tionghoa”. Kelompok usia lebih tua cenderung memiliki pandangan yang lebih tradisional, dengan sebagian signifikan masih menganggap diri mereka bagian dari bangsa Tionghoa.
Dari perspektif politik, sikap Zhang dapat dilihat sebagai upaya KMT untuk mengembalikan narasi “satu China” dalam wacana domestik sekaligus menguji batas toleransi Beijing. Jika pemerintah Taiwan mengadopsi kebijakan yang lebih mengakomodasi pandangan KMT, hal ini berpotensi menurunkan ketegangan militer di Selat Taiwan namun sekaligus menimbulkan kritik keras dari partai-partai pro‑kemerdekaan.
- Identitas nasional Taiwan kini dipengaruhi oleh faktor generasi, pendidikan, dan media sosial.
- Kebijakan luar negeri Taiwan harus menyeimbangkan antara keinginan mempertahankan kedaulatan dan mengelola hubungan dengan China.
- Partai politik utama (KMT dan DPP) menggunakan isu identitas sebagai alat mobilisasi pemilih.
- Opini publik menunjukkan tren meningkatnya identifikasi sebagai “Taiwanese” dibandingkan “Tionghoa”.
Perdebatan ini menunjukkan bahwa identitas dan politik pengakuan di Selat Taiwan tidak hanya bersifat simbolik, melainkan menjadi faktor kunci dalam menentukan arah kebijakan dalam dan luar negeri Taiwan ke depan.




